Rabu, 31 Oktober 2012
kepemimpinan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia. Ada banyak pengertian yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan. Rauch & Behlinh (1984). Proses dimana suatu kelompok dipimpin oleh seseoang yang di anggap mampu dan dipercaya untuk membawa kelompok tersebut pada suatu tujuan yang direncanakan.
Kepemimpinan adalah suatu proses saling mendorong melalui keberhasilan interaksi dari perbedaan-perbedaan individu, mengontrol daya manusia dalam mengejar tujuan bersama. P. Pigors (1935). Adanya sikap saling mendorong dan mendukung antar anggota kelompok agar perbedaan-perbedaan yang ada dalam kelopok tersebut dapat tersatukan dengan control yang baik agar tujuan bersama dapat terwujud.
Kepemimpinan dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung amat efektif, baik antara pengajar dengan pelajar sebab mekanismenya memungkinkan pelajar mampu mengerti dan memahami pesan yang disampaikan oleh pengajar yang ada di depan kelas. Kepemimpinan seorang kepala sekolah pun sangat efektif apabila kepala sekolah dan para guru mampu bekerjasama dengan baik untuk mewujudkan sistem operasional sekolah yag efektif dan dapat menimbulkan ketertarikan masyarakat terhadap sekolah yang telah berdiri tersebut. Agar jalannya kepemimpinan berkualitas, maka diperlukan suatu pendekatan komunikasi yaitu; pendekatan secara ontologis (apa itu kepemimpinan), tetapi juga secara aksiologis (bagaimana berlangsungnya kepemimpinan yang efektif) dan secara epistemologis (untuk apa kepemimpinan itu dilaksanakan).
Hal – hal penting yang perlu diperhatikan saat proses kepemimpinan dalam pembelajaran, antara lain: (1) hal yang akan disampaikan sampai kepada penerima tanpa ada pembiasan isi (subject = outcome), (2) hal yang akan disampaikan setingkat dengan kemampuan siswa dalam menelaah (tingkat intelegensi siswa, pengalaman-pengalaman yang pernah didapat), (3) siswa terikat secara aktif dalam proses belajar dengan cara menghubungkan apa yang mereka dapat sebelumnya dengan hal baru yang akan disampaikan.
Ditinjau dari prosesnya pendidikan adalah kepemimpinan dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut terlibat banyak komponen yang terdiri atas manusia, yakni pengajar sebagai pemimpin dan pelajar sebagai anak buah atau yang dipimpin.
Lazimnya pada tingkatan bawah dan menengah pengajar itu disebut guru, sedangkan pelajar disebut dengan murid; pada tingkatan tinggi pengajar dinamakan dengan dosen, sedangkan pelajar dinamakan dengan mahasiswa. Pada tingkatan apapun proses kepemimpinan antara pelajar dan pengajar itu pada hakekatnya sama saja. Perbedaannya hanyalah pada proses kepemimpinan serta model atau tipe kepemimpinan yang disampaikan oleh pengajar kepada pelajar.
Tujuan pendidikan adalah khas atau khusus, yaitu meningkatkan pengetahuan seseorang mengenai suatu hal sehingga ia menguasainya. Tujuan pendidikan akan tercapai jika prosesnya komunikatif dan kepemimpinannya demokrasi.
Pada umumnya pendidikan berlangsung secara berencana di dalam kelas secara tatap muka (face to face). Karena kelompoknya relatif kecil. Meskipun komunikasi antara pelajar dan pengajar dalam ruang kelas itu termasuk komunikasi kelompok, sang pelajar sewaktu-waktu bisa mengubahnya menjadi komunikasi antarpersona. Pendekatan prilaku merupakan suatu pendekatan yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin. Sikap dan gaya kepemimpinan itu akan tampak ketika pemimpin itu memberi perintah, membagi tugas dan wewenangnya, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara memberi bimbingan dan pengawasan, cara membina disiplin kerja bawahan, cara memimpin rapat anggota, cara mengambil putusan, dan lain sebagainya. Perilaku yang mendukung adalah sejauh mana seorang pemimpin dapat melibatkan diri dalam komunikasi dua arah, misalnya mendengar, menyediakan dukungan dan dorongan, memudahkan interaksi, dan melibatkan para pengikut dalam pengambilan suatu keputusan.
Berdasarkan berbagai latar belakang dan pernyataan diatas, kepemimpinan memiliki hubungan yang sangat erat dengan efektifitas dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar antara seorang guru dengan siswanya. Karena itulah, kelompok kami memilih untuk membahas “ Penerapan Kepemimpinan yang Efektif dalam Kegiatan Pembelajaran “.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka muncul beberapa masalah yang dapat kami rumuskan sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan proses belajar mengajar sebagai proses kepemimpinan?
2. Bagaiamana menerapkan kepemimpinan yang efektif untuk kelancaran proses pembelajaran ?
3. Teori kepemimpinan apa saja yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran ?
4. Bagaimana implementasi teori kepemimpinan dalam kegiatan belajar di sekolah ?
C. Tujuan Pembahasan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dirumuskan diatas, maka beberapa tujuan yang ingin kami capai setelah observasi dan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Kita bisa memahami pengertian kepemimpinan dalam pembelajaran.
2. Mampu menerapkan kepemimpinan yang efektif unuk kelancaran proses pembelajaran.
3. Kita mampu menjelaskan dan memahami teori-teori kepemimpinan apa saja yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
4. Mampu menerapakan teori-teori tersebut dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
BAB II
KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN
A. Definisi Kepemimpinan
Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia. Ada banyak pengertian yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.
Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kelompok, dalam proses mengontrol gejala-gejala social. Kepemimpinan sebagai suatu kemampuan meng-handel orang lain untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan friksi sesedikit mungkin dan kerja sama yang besar, kepemimpinan merupakan kekuatan semangat/moral yang kreatif dan terarah. Pemimpin adalah individu yang memiliki program/rencana dan bersama anggota kelompok bergerak untuk mencapai tujuan dengan cara yang pasti.
B. Syarat-syarat Kepemimpinan dalam Pendidikan
a) Syarat-syarat formal,
Seseorang yang menjabat kepala sekolah dilingkungan Departemen Pendidikan Nasional diruskan dalam Kepmen Diknas RI No : 162/U/2003 tentang pedoman penugasan guru sebagai Kepala Sekolah.
b) Syarat-syarat fundamental,
Nilai-nilai moral Pancasila menjadi syarat fundamental yang harus dijadikan acuan, dihayati dan diamalkan oleh para calon pemimpin pendidikan di Indonesia.
c) Syarat-syarat praktis
• Memiliki kelebihan dalam pengetahuan dan kemampuan
• Memiliki kelebihan dalam kepribadian
d) Syarat –syarat lainnya
• Memiliki kecerdasan atau intelegensi yang cukup baik
• Percaya diri sendiri dan bersifat membership
• Cakap bergaul dan ramah tamah
• Kreatif, inisiatif dan memiliki hasrat untuk maju dan berkembang
• Organisatoris yang berpengaruh dan berwibawa
• Memiliki keahlian atau ketrampilan dalam bidangnya
• Suka menolong, memberi petunjuk dan menghukum secara bijaksana
• Memiliki keseimbangan emosional dan bersifat sabar
• Memiliki semangat pengabdian dan kesetiaan yang tinggi
• Berani mengambil keputusan dan tanggung jawab
• Jujur, rendah hati, sederhana dan dapat dipercaya
• Bijaksana dan selalu berlaku adil
• Disiplin
• Berpengetaguan dan berpandangan luas
• Sehat jasmani dan rohani
C. Prinsip-Prinsip Kepemimpinan
1. Prinsip pelayanan, bahwa kepemimpinan sekolah harus menerapkan unsur-unsur pelayanan dalam kegiatan operasional sekolahnya.
2. Prinsip persuasi, pemimpin dalam menjalankan tugasnya harus memperhatikan situasi dan kondisi setempat demi keberhasilan keberhasilan kepemimpinannya yang sedang dan yang akan dilaksanakan.
3. Prinsip bimbingan, pemimpin pendidikan hendaknya membimbing peserta didik kearah tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan perkembangan peserta didik yang ada dilembaganya.
4. Prinsip efisiensi, mengarah pada cara hidup yang ekonomis dengan pengeluaran sedikit untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.
5. Prinsip berkesinambungan, agar pemimpin pendidikan ini diterapkan tidak hanya pada satu waktu saja, tetapi perlu secara terus menerus.
D. Tipe-Tipe Kepemimpinan
1. Kepemimpinan yang otokratis
Seorang pemimpin yang otokratis ingin memperlihatkan kekuasaan dan tanggung jawabnya, sehingga maju mundurnya sekolah tergantung pada kepemimpinannya. Oleh sebab itu pengawasan terhadap bawahannya sangat ketat, karena ia khawatir kalau pekerjaan bawahannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
2. Kepemimpinan yang pseudo-demokratis
Pemimpin memperlihatkan kesan demokratis dalam kepemimpinanya namun sebenarnya besifat otokratis. Pemimpin memberi hak dan kuasa kepada para guru untuk menetapkan dan memutuskan sesuatu, tetapi sesungguhnya ia bekerja dengan perhitungan, ia mengatur siasat agar supaya kemauannya juga yang terwujud.
3. Kepemimpinan yang “ Laissez-faire “
Kepemimpinan ini menghendaki supaya pada bawahannya diberikan banyak kebebasan. Pemimpin membiarkan para guru bekerja sesuka hati, berinisiatif dan tidak diawasi dalam melaksanakan tugasnya. Pemimpin ini bekerja tanpa rencana sehingga pekerjaan secara keseluruhan disekolah tersebut menjadi tidak teratur dan kacau balau.
4. Kepemimpinan yang demokratis
Pemimpin demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya, yang bersama-sama dengan kelompoknya berusaha dan bertanggung jawab tentang tercapainya tujuan bersama. Para guru bekerja dengan secara suka cita untuk memajukan program-program kerja disekolah. Semua program sekolah dilaksanakan sesuai rencana, yang disusun dan disepakati bersama, akhirnya tercapailah suasana kekeluargaan yang harmonis dan menyenangkan.
E. Teori – Teori Kepemimpinan :
a) Teori sifat ( Traits Theory )
Kepemimpinan memerlukan serangkaian sifat-sifat atau perangia tertentu yang menjamin keberhasilan pada setiap situasi. Oleh karena itu pemimpin dianggap memilik sifat-sifat yang dibawa sejak lahir dan ia menjadi pemimpin karena memilikibakat-bakat kepemimpinan.
b) Teori lingkungan ( Environmental theory )
Pemimpin akan timbul dalam situasi tertentu, dimana sekelompok orang sangat memerlukan seseorang yang memilki kelebihan dan ketrampilan tertentu untuk dapat mengatasi masalah-masalah yang ada pada situasi tertentu.
c) Teori pribadi dan situasi ( Personal-situational theory )
Kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kepribadiannya dengan menyesuaikan kepada situasi yang dihadapi.
d) Teori interaksi dan harapan ( Interaction-Expectation theory )
Teori ini mendasarkan diri pada variabel-variabel : aksi, reaksi, interaksi dan perasaan. Seorang pemimpin menggerakkan pengikut dengan harapan bahwa ia akan berhasil, ia akan mencapai tujuan organisasi, ia akan mendapatkan keuntungan, penghargaan dan sebagainya.
e) Teori humanistik ( Humanistic theory )
Teori berdasarkan bahwa “ manusia karena sifatnya adalah organisme yang dimotivasi, sedangkan organisasi karena sifatnya tersusun dan terkendali “. Teori ini memberi kelonggaran kepada individu untuk mewujudkan motivasinya sendiri yang potensial untuk memenuhi kebutuhannya dan memberikan sumbangan bagi pencapaian tujuan organisasi.
f) Teori tukar-menukar ( Exchange theory )
Antara pemimpin dan yang dipimpin harus saling menerima dan memberi(tukar-menukar pendapat), sehingga akan selalu terjadi gerak, yaitu gerak dari pengikutnya yang digerakkan oleh pemimpin.
F. Fungsi Kepemimpinan dalam pendidikan menurut Nawawi (1988) :
a. Mengembangkan dan menyalurkan kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat, baik secara perorangan maupun kelompok sebagai usaha mengumpulkan data/bahan dari anggota kelompok dalam menetapkan keputusan yang mampu memenuhi aspirasi dalam kelompoknya.
b. Mengembangkan suasana kerjasama yang efektif dengan memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap kemampuan orang-orang yang dipimpn sehingga timbul kepercayaan pada dirinya sendiri dan kesediaan menghargai oranglain sesuai dengan kemampuan masing-masing.
c. Mengusahakan dan mendorong terjadinya pertemuan pendapat dengan sikap harga-mengargai, sehingga timbul perasaan ikut terlibat dalam kegiatan kelompok/organisasi dan tumbuh perasaan bertanggung jawab atas tewujudnya pekerjaan masing-masing sebagai bagian dari usaha pencapaian tujuan.
G. Perkembangan Teori Kepemimpinan Dalam Organisasi Pendidikan
Asal Usul Organisasi
Bangsa mesir memperlihatkan ketrampilan berorganisasi dalam membangun pyramida dalam tahun 500 sebelum masehi
Amerika serikat pada permulaan abad ke i9 mekanisme industri telah mendorong pada masalah organisasi klasik dan gambaran peranan diantara para pekerja.
Pada permulaan abad ke 20 ide-ide mengenai kepemimpinan dan administrasi telah dimasukkan dalam katalog dan teori-teori operasional
Perhatian pimpinan para struktur sebagai dasar organisasi berkembang dari kompleksitas urusan manajemen yang ditemukan dalam masa mekanisme industri. Sejajar dengan gerakan manajemen ilmiah disekitar abad ke 19 dan 20 ada usaha yang dilakukan oleh manajer industri untuk mengungkapkan prinsip-prinsip umum organisasi yaitu : untuk mengembangkan teori yang didasarkan kepada struktur organisasi. Fayol berpendapat bahwa manajemen adalah jendral untuk semua usaha manusia dan dikembangkan seperangkat prinsip-prinsip yang dapat diterapkan kepada semua kegiatan manajemen.ke 14 prinsip-prinsipnya termasuk konsep pembagian kerja, kesatuan komando bawahan, pemberian gaji dan spirit kelompok.
Susunan administrasi yang didominasi perhatian pada struktur, dibagi menjadi 3 :
a) Organisasi yang kurang komplek disebut organisasi lini karena ada garis komando langsung diantara pejabat-pejabat administratif
b) Organisasi formal kedua yang mempunyai garis hubungan sama dengan anggota-anggota staf tidak terikat dalam rantai kekuasaan
c) Organisasi formal yang lebih kompleks, mempunyai garis komando maupun personalia staf, ditambah tenaga spesialis teknis yang melayani beberapa lapis hierarkis dalam organisasi.
Proses organisasi timbul dari kebutuhan karena organisasi biokratik terbukti tidak mampu memantau dan menghimpun perubahan-perubahan besar dalam lingkungan. Proses sebagai dasar organisasi meliputi siklus yang berhubungan dengan perubahan, langkah-langkah yang termasuk kedalamannya : penganalisisan, perencanaan penerapan dan penilaian. Untuk menyukseskaan metodologi pengembangan organisasi dalam memperbaiki proses lembaga adalah janji yang berkenaan dengan perubahan terhadap perpanjangan waktu dan pemakaian beberapa sumber organisasi untuk mempertahankan, membangun kembali dan dan memperbesar strukturnya.
Studi relasi diantara orang dalam organisasi, didekati dari sejumlah variabel, yaitu : komunikasi, kebutuhan individual,semangat juang, motivasi dan kelompok kerja kecil studi relasi organisasi telah diperkaya oleh studi kepemimpinan dan telah memberi kita petunjuk terhadap fungsi organisasi. Studi mengenai organisasi dari perspektif relasi menawarkan praktek supervisor dengan bebagai pemahaman tentang peranan mereka dalam mempengaruhi perilaku manusia.
Studi mengenai pengaruh terdiri dari 4 sub daerah yaitu : studi-studi menganai perubahan, kepemimpinan, pengambilan keputusan dan peranan politik. Sub daerah ini pecah lagi dalam studi-studi yang lebih khusus seperti pengaruh terhadap keuangan, media,tekhnologi dan variabel-variabel lain yang dapat merubah jalannya organisasi. Penyelidikan dalam fungsi organisasi berlangsung komprehensif dan kontiyu dalam abad ini, Empat fokus utama yaitu : struktur, proses, relasi dan pengaruh sebagai dasar organisasi.
H. Kepemimpinan Dalam Pendidikan
Hasil Observasi :
Berdasarkan hasil observasi kami, kepemimpinan dalam pendidikan sangat banyak kami jumpai. Diantaranya ketika guru menerangkan dan memberikan penjelasan kepada siswa/murid. Ini merupakan suatu proses kepemimpinan dalam pendidikan.
Teori pribadi dan situasi ( Personal-situational theory )
Kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kepribadiannya dengan menyesuaikan kepada situasi yang dihadapi. Disini kami membahas kepemimpinan seorang guru kepada siswa di RA Tunas Islam. Siswa yang duduk di bangku taman kanak-kanak cenderung masih labil dalam proses kegiatan belajar mengajar. Mereka belum dapat menyesuaikan diri terhadap dunia pendidikan yang baru mereka rasakan. Sehingga, seorang guru yang disini berperan sebagai pemimpin harus mampu menyesuaikan situasi dan kondisi yang dihadapi saat mengajar.
Untuk kegiatan kepemimpinan masa ini, jenis kepemimpinan ini kami temukan ketika seorang guru sedang menjelaskan ataupun menyampaikan materi kepada siswanya. Dan hal ini dikatakan sebagai kepemimpinan karena pesan atau materi tidak hanya untuk satui siswa. Melainkan bagi seluruh siswa dalam kelas sehingga materi yang telah di berikan bisa sampai ke semua sisawa. Dan kepemimpinan yang telah di terapkan kepala sekolah dan seluruh guru yang mengajar dikatakan telah berhasil.
Kepemimpinan seorang kepala sekolah di RA Tunas Islam yaitu Demokratis
Dimana seorang kepala sekolah yang menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya, yang bersama-sama dengan guru-guru berusaha dan bertanggung jawab tentang tercapainya tujuan bersama. Namun kepala sekolah tidak pernah merasa bahwa dirinya berkuasa, karena kepala sekolah ikut terjun langsung kedalam proses pembelajaran sekolah. Dengan ini kepala sekolah dapat mewujudkan keberhasilannya dalam memimpin sekolah tersebut.
Hasil Wawancara Kepada Kepala Sekolah :
Ibu Nur Fadhila (Kepala Sekolah) sudah menjabat sebagai pimpinan selama 2 tahun , selama dua tahun ini sebagai pimpinan pada 1 tahun ini telah mengalami kendala. Kendala tersebut bukan karena tidak berhasil dalam memimpin sekolah tersebut melainkan karena system yayasannya yang kurang memperhatikan. Dimana sekolah RA Tunas Islam akhir tahun ini telah mengalami kemosrotan dalam murid baru. Hal ini bukan karena citra sekolah tersebut jelek atau kepemimpinanya yang kurang baik ,melainkan karena yayasan tersebut tidak memperdulikan serta tidak ada tindak lanjutan atas masalah tersebut. Ibu Nur Fadhila telah mengupayakan agar hal ini segara di tindak lanjuti. Kemosrotan murid baru ini di karenakan di dareah sekitar sekolah banyak didirikan sekolah-sekolah baru sehingga banyak yang sekolah dekat sekolahan tersebut. Masyarakat tersebut lebih memayoritaskan jarak antara rumah dengan sekolah tersebut walaupun mereka tau dari tahun ke tahun sekolah RA Tunas Islam perdikat prestasinya sangat tinggi, mulai dari drambandnya, lomba-lombanya di luar kabupaten dll, tetaapi meraka lebih memilih sekolah yang lebih dekat dengan rumah mereka. Meskipun kendala tersebut belum ada tindak lanjut dari yayasan ,ibu Nur Fadhila tetap mempertahankan perstasi yang di raih dari tahun ke tahunnya tanpa memperdulikan kendala tersebut. Dalam pengajarannya juga lebih di ketatkan lagi meski muridnya sedikit tapi tidak mengurangi prestasi yang telah diraih. Sebagai seorang pemimpin ibu Nur Fadhila juga ikut terjun langsung mengajar bersama rekan-rekan guru lainya yang mengajar. Dengan ikut terjun langsung dalam system belajar mengajar , ibu pimpinan akan lebih mengetahui setiap perkembangan yang ada di sekolah RA Tunas Islam tersebut.Dari guru-guru yang mengajar juga sangat baik dalam memimpin di dalam kelas, para ibu guru sangat lues dalam menghadapi tingkah laku murid-murid yang memiliki berbagai karakter. Para ibu guru menuntun murid-murid untuk lebih cekatan, tanggap, dan kreatif. Untuk menghadapi anak yang nakal atau bisa di bilang hiperaktif para ibu guru tidak menggekang murind untuk mengikuti apa yang di ajarkan oleh gurunya, melaikan membiarkan murid tersebut , bukan berarti membiarkan tersebut memberi arahan yang tidak baik melainkan untuk lebih memahami karakter para murid yang masih labil jadi tidak perlu untuk di paksakan apabila di paksakan akan membuat murid tidak nyaman. Sehingga dari semua ini sudah jelas bahwa memang kepemimpinan yang telah di terapkan oleh ibu Nur Fadhila sudah sangat baik untuk perkembangan sekolah RA Tunas Islam agar lebih maju lagi. Kendala-kendala tersebut bukan terjadi kareana kepemimpinan ibu Nur Fadhila tidak baik melaikan dari pihak yayasan yang tidak mau menindak lanjuti ke pemerintah.
I. Evaluasi Kepemimpinan Dalam Pendidikan
Kegiatan evaluasi kepemimpinan pendidikan mempunyai peranan yang strategis dalam rangka untuk memberikan penilaian apakah implementasi kepemimpinan pendidikan tersebut dapat berjalan secara efektif atau tidak. Peranan evaluasi dalam kepemimpinan pendidikan : (a) Evaluasi sebagai pengukur kemajuan, (b) evaluasi sebagaialat planning, (c) evaluasi sebagai alat perbaikan. Evaluasi kepemimpinan pendidikan menitikberatkan pada unsur : (1) guru sebagai pelaksana program pendidikan, (2) kepala sekolah sebagai leader. Sedangkan prinsip-prinsip kepemimpinan pendidikan terdiri dari :
1. Prinsip menyeluruh, mencakup berbagai aspek dalam proses belajar dan mengajar
2. Prinsip kooperatif, melibatkan semua pihak yang terkait
3. Prinsip diagnostik, menemukan kelemahan dan kelebihan dari pelaksanaan evaluasi
4. Prinsip efisien, pelaksanaan harus diusahakan seefisien dan seefektif mungkin
5. Prinsip kontinuitas, evaluasi dilakukan secara terus-menerus agar penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dapat diketahui dan dicarikan pemecahannya.
Cara-cara yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam membantu guru-guru menilai pekerjaannya : Mengadakan kunjungan kelas dimana guru sedang mengajar, mendorong guru untuk memberanikan diri melakukan penilaian diri sendiri, penilaian dilakukan oleh kawan-kawan guru sesudah dilakukan kunjungan.
Penilaian juga pentig bagi hidup seorang kepala sekolah, bila ingin meningakatkan mutu pekerjaan menjadi lebih baik, dengan cara : melakukan penilaian kepada diri sendiri, penilaian dapat dilakukan oleh atasan langsung kepala sekolah ( pengawas sekolah ), bila dikehendaki guru juga dimintai untuk menilai kepala sekolahnya.
Salah satu Intrumen evaluasi kepemimpinan pendidikan yang berbentuk “self evaluation checlist” dikembangkan oleh pribadi (2001) dalam penelitian tentang efektivitas kepala sekolah dikonfirmasikan dalam 37 item. Isi intrumennya, misalnya: saya merasa berhasil dalam membimbing guru, saya berhasil dalam mengembangkan guru, dll.
Kinerja kepala sekolah meliputi Tujuh komponen tugas kepala sekolah yang mendapat perhatian, antara lain : kepala sekolah sebagai pendidik, manajer, pengelola administrasi, penyelia, pemimpin, pembaharu, dan pendorong.
J. Hambatan-hambatan dalam Kepemimpinan
Pada sebuah proses dalam memimpin yang terjadi terkadang juga akan mengalami banyak hambatan dalam berlangsungnya kepemimpinan pendidikan. Beberapa Hambatan Kepemimpinan adalah :
a. Hambatan dalam berkomunikasi langsung maupun tidak langsung yang disebabkan factor bahasa yang digunakan dalam segala proses pengajaran.
b. Hambatan dikarenakan adanya faktor ketidaksepahaman antara pemimpin dan bawahan sehingga terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi.
c. Hambatan yang disebabkan oleh perbedaan pada diri masing-masing individu
d. Hambatan psikologis hambatan yg disebabkan oleh faktor kejiwaan individu dimana dalam observasi kami siswa Taman Kanak-Kanak cenderung masih labil.
K. Proses Belajar Mengajar Sebagai Proses Berkepemimpinan
Proses belajar mengajar dapat dikatakan sebagai proses memimpin dimana terjadi proses penyampaian pesan tertentu dari sumber belajar (guru, instruktur, media pembelajaran dll) kepada penerima (peserta didik, murid) dengan tujuan agar seorang pemimpin/sumber belajar dapat dijadikan panutan atau contoh dalam melakukan segala hal.
Guru hendaknya menyadari bahwa didalam kegiatan belajar dan pembelajaran, sesungguhnya ia sedang melaksanakan kegiatan memimpin. Untuk itu guru harus memilih dan menggunakan kata-kata yang berada dalam jangkauan/medan pengalaman murid-muridnya, agar dapat dimengerti dengan baik oleh mereka sehingga pesan pembelajaran yang disampaikan dapat diterima oleh murid dengan baik.
Kepala sekolah hendaknya menyadari bahwa didalam memimpin suatu organisasi dalam hal ini adalah sekolah maka ia harus selalu berada dalam tujuan yang benar. Agar dalam menyikapi dan memajukan sekolah dapat berjalan dengan baik dan sekolah dapat menumbuhkan stigma yang baik di masyarakat. Oleh karena itu seorang kepala sekolah dituntut untuk tegas dan bijaksana dalam memimpin sekolah yang berada di kekuasaannya.
Seorang Guru yang Berusaha Menjelaskan Pesan
Untuk Kelancaran Pembelajaran
Contoh Kasus :
Dalam observasi yang kita lakukan di RA Tunas Islam, teori humanistic diterapkan oleh beberapa guru. Dimana murid cenderung menggali informasi yang telah diarahkan oleh guru dan mencoba menyelesaikan permasalahan berdasarkan perkembangan pikirannya sendiri. Guru tersebut memacu murid untuk meningkatkan semangat dengan memberikan contoh terhadap keadaan berdasarkan lingkungan yang mereka lihat.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
1. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan. Kepemimpinan adalah suatu proses saling mendorong melalui keberhasilan interaksi dari perbedaan-perbedaan individu, mengontrol daya manusia dalam mengejar tujuan bersama.
2. Kepemimpinan dikatakan efektif dalam hal ini adalah apabng pemimpin dengan bawahannya terdapat komunikasi yang baik,saling mendukung dan saling mendorong dalam melakukan segala tindakan yang nantinya akan berdampak bagi organisasi
3. Teori-teori kepemimpinan yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran adalah :
a. Teori Sifat
b. Teori Lingkungan
c. Teori Pribadi dan Situasi
d. Teori Interaksi dan Harapan
e. Teori Humanistik
f. Teori Tukar-Menukar
4. Efektifitas sebuah proses kepemimpinan tergantung pada komponen yang terkait. Semakin baik komponen, gangguan-gangguan dalam kepemimpinan akan terhindari. Proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan satu bentuk proses kepemimpinan yang terjalin antara guru sebagai pemimpin dalam kelas dan murid sebagai bawahan atau anggota, sebagai akibatnya murid akan mengetahui materi yang disampaikan dan memanfaatkan pesan yang telah diterima oleh murid tersebut, dan inilah tujuan utama dari proses belajar mengajar. Kemampuan/keterampilan guru dalam memimpin akan mempengaruhi proses yang akhirnya berujung pada hasil. Murid yang cerdas adalah murid yang mampu lebih dahulu memahami apa yang disampaikan oleh seorang guru, kemudian murid tersebut akan mencoba atau mengimplementasikan pada kehidupan kesehariannya.
5. Tipe-Tipe Kepemimpinan
1) Kepemimpinan yang otokratis
2) Kepemimpinan yang pseudo demokratis
3) Kepemimpinan yang “ Laissez-faire “
4) Kepemimpinan yang demokratis
B. Saran
Berdasarkan latar belakang masalah yang muncul, sampai pada pembahasan beberapa rumusan masalah diatas. Maka diharapkan :
1. Seorang guru lebih memperhatikan karakter murid sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.
2. Sebaiknya seorang guru lebih memilih menggunakan metode pembelajaran seperti apa yang sesuai dengan keadaan kelas dan muridnya.
3. Selain dari segi pengajar, murid seharusnya juga bisa lebih memperhatikan para guru mereka.
4. Sebaiknya seorang guru harus bisa lebih menggunakan gaya bahasa yang sekiranya mudah untuk dipahami oleh siswanya.
LAMPIRAN
RANGKUMAN KEGIATAN OBSERVASI DI RA TUNAS ISLAM BANGAH
1. KEGIATAN PERTAMA
Dalam observasi ini ada beberapa kegiatan pengamatan yang kami lakukan. Mulai dari pengamatan dalam kelas sampai pengamatan di luar kelas. Untuk kegiatan pertama, pengamatan kami lakukan di dalam kelas, yaitu di kelas TK B.
Di kelas ini kami mengamati beberapa hal, ketika proses pembelajaran. Diantaranya bagaimana proses seorang pemimpin dalam hal ini adalah guru dalam menyampaikan pesan kepada siswa, bagaimana keadaan kelas dalam proses pembelajaran, aktif ataupun pasif. Kemudian bagaimana suasana di kelas, bagaimana hubungan antara sesama siswa dalam kelas tersebut. Dan kami juga mengamati metode dan media yang digunakan oleh guru ketika di dalam kelas.
Selain itu, di sela-sela pengamatan ini, kami juga mengamati beberapa siswa yang dengan asik bermain sendiri dengan siswa lainnya ketika proses belajar mengajar berlangsung.
2. KEGIATAN KEDUA
Setelah melakukan pengamatan di dalam kelas, pengamatan selanjutnya kami lakukan di luar kelas. Tepatnya di luar kegiatan belajar mengajar. Kemudian kami mencoba mangajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa kepala sekolah ketika waktu istirahat.
Ada beberapa pertanyaan yang kami ajukan kepada kepala sekolah. Diantaranya pertanyaan seputar bagaimana proses kepemimpinan yang berlangsung dalam kegiatan disekolah, bagaimana cara menyelesaikan masalah saat terjadi perbedaan pendapat antara pemimpin/kepala sekolah dengan bawahaan/guru. Apakah komunikasi antara siswa dan guru mereka terjalin dengan baik atau tidak, dan bagaimana respon mereka. Bagaimanakah hubungan antara wali murid dengan para guru, bagaimana fasilitas yang ada disekolah yang menunjang kenyamanan dalam proses belajar mengajar. Serta kami juga mengajukan pertanyaan seputar kegiatan kepemimpinan yang tidak termasuk dalam proses belajar mengajar (non akademik).
3. KEGIATAN KETIGA
Selanjutnya kami mencoba melakukan pengamatan pada kondisi ruang kelas sekolah tersebut. Sebelum kami mengajukan beberapa pertanyaan, kami menemukan sesuatu yang mengagumkan. Kami melihat segala perlengkapan masing-masing siswa telah tertata rapi pada tempat yang disediakan.
Kemudian kami bertanya pada guru kelas. Ternyata, hal ini memang sudah dibiasakan kepada para siswa untuk melatih kedisiplinan dan ketertiban dalam kegiatan sehari-hari. Dan kegiatan terakhir yang kami lakukan adalah melakukan tanya jawab dengan kepala sekolah dan guru di ruang kepala sekolah mengenai sistem kepemimpinan dan kegiatan-kegiatan lainnya, hingga kemudian berpamitan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar