BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan
oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.
Pengertian tersebut mengidentifikasikan kepada kita bahwa yang termasuk
unsur-unsur komunikasi adalah komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek.
Komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar
berlangsung amat efektif, baik antara pengajar dengan pelajar maupun diantara
para pelajar sendiri sebab mekanismenya memungkinkan si pelajar terbiasa
mengemukakan pendapat secara argumentatif dan mengkaji dirinya, apakah yang
telah diketahuinya itu benar atau tidak. Agar jalannya komunikasi berkualitas,
maka diperlukan suatu pendekatan komunikasi yaitu; pendekatan secara ontologis
(apa itu komunikasi), tetapi juga secara aksiologis (bagaimana berlangsungnya
komunikasi yang efektif) dan secara epistemologis (untuk apa komunikasi itu
dilaksanakan).
Hal – hal penting yang perlu diperhatikan saat
proses informasi untuk komunikasi dalam pembelajaran, antara lain: (1) hal yang
akan disampaikan sampai kepada penerima tanpa ada pembiasan isi (subject =
outcome), (2) hal yang akan disampaikan setingkat dengan kemampuan siswa dalam
menelaah (tingkat intelegensi siswa, pengalaman-pengalaman yang pernah
didapat), (3) siswa terikat secara aktif dalam proses belajar dengan cara
menghubungkan apa yang mereka dapat sebelumnya dengan hal baru yang akan
disampaikan, (4) siswa diminta menunjukkan kemajuan sehingga pencapaiannya
dapat dianalisis, umpan balik mendapat respon sehingga terlihat jelas sukses
dalam usahanya, dan (5) siswa diberi waktu luang yang cukup untuk berlatih
dengan kondisi beragam untuk meyakinkan proses retensi dan tranfer yang sedang
terjadi.
Ditinjau dari prosesnya pendidikan adalah
komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua komponen
yang terdiri atas manusia, yakni pengajar sebagai komunikator dan pelajar
sebagai komunikan.
Lazimnya pada tingkatan bawah dan menengah
pengajar itu disebut guru, sedangkan pelajar disebut dengan murid; pada tingkatan
tinggi pengajar dinamakan dengan dosen, sedangkan pelajar dinamakan dengan
mahasiswa. Pada tingkatan apapun proses komunikasi antara pelajar dan pengajar
itu pada hakekatnya sama saja. Perbedaannya hanyalah pada jenis pesan serta
kualitas yang disampaikan oleh si pengajar kepada di pelajar.
Tujuan pendidikan adalah khas atau khusus,
yaitu meningkatkan pengetahuan seseorang mengenai suatu hal sehingga ia
menguasainya. Jelas perbedaannya dengan tujuan penerangan, propaganda,
indoktrinasi dan agitasi sebagaimana disinggung di atas. Tujuan pendidikan akan
tercapai jika prosesnya komunikatif. Pada umumnya pendidikan berlangsung secara
berencana di dalam kelas secara tatap muka (face to face). Karena kelompoknya
relatif kecil. Meskipun komunikasi antara pelajar dan pengajar dalam ruang
kelas itu termasuk komunikasi kelompok, sang pelajar sewaktu-waktu bisa
mengubahnya menjadi komunikasi antarpersona. Terjadilah komunikasi dua arah
atau dialog di mana si pelajar menjadi komunikan dan komunikator, demikian pula
sang pengajar. Terjadinya komunikasi dua arah ini ialah apabila para pelajar
bersikap responsif, mengetengahkan pendapat atau mengajukan pertanyaan, diminta
atau tidak diminta. Jika si pelajar pasif saja dalam arti kata hanya
mendengarkan tanpa ada gairah untuk mengekspresikan suatu pernyataan atau
pertanyaan, maka meskipun komunikasi itu bersifat tatap muka, tetap saja
berlangsung satu arah dan komunikasi itu tidak efektif.
Berdasarkan berbagai latar belakang dan
pernyataan diatas, komunikasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan
efektifitas dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar antara seorang guru
dengan siswanya. Karena itulah, kelompok kami memilih untuk membahas “
Penerapan Komunikasi yang Efektif dalam Kegiatan Pembelajaran “.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang masalah diatas, maka muncul beberapa masalah yang dapat kami rumuskan
sebagai berikut :
1.
Apa yang dimaksud
dengan proses belajar mengajar sebagai proses komunikasi?
2.
Bagaiamana menerapkan
komunikasi yang efektif untuk kelancaran proses pembelajaran ?
3.
Teori komunikasi apa
saja yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran ?
4.
Bagaimana implementasi
teori komunikasi dalam kegiatan belajar di sekolah ?
C.
Tujuan
Pembahasan
Berdasarkan
latar belakang dan rumusan masalah yang telah dirumuskan diatas, maka beberapa
tujuan yang ingin kami capai setelah observasi dan penyusunan makalah ini
adalah sebagai berikut :
1.
Kita bisa memahami
pengertian komunikasi dalam pembelajaran.
2.
Mampu menerapkan
komunikasi yang efektif unuk kelancaran
proses pembelajaran.
3.
Kita mampu menjelaskan
dan memahami teori-teori komunikasi apa
saja yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
4.
Mampu menerapak
teori-teori tersebut dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
BAB
II
KAJIAN
TEORI DAN PEMBAHASAN
A. Definisi Komunikasi
Ditinjau dari etimologi, komunikasi berasal
dari kata communicare yang berarti “membuat sama”. Definisi kontemporer
menyatakan bahwa komunikasi berarti “mengirim pesan”. Menurut (Effendy. 2003:
9) istilah komunikasi (communication) berasal dari kata latin communication,
dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya
adalah sama makna. Berbicara mengenai definisi komunikasi tidak ada
definisi yang salah dan benar secara absolute.
Namun definisi kontemporer menyarankan bahwa
komunikasi merujuk pada kalimat “mendiskusikan makna”, ”mengirim pesan” dan
”penyampaian pesan lewat media”. Apapun istilah yang dipakai, secara umum
komunikasi mengandung pengertian “memberikan informasi, pesan, atau gagasan
pada orang lain dengan maksud agar orang lain tersebut memiliki kesamaan
informasi, pesan atau gagasan dengan pengirim pesan.
B. Konsep Komunikasi
Konsep komunikasi menurut John R. Wenburg,
William W. Wilmoth dan Kenneth K Sereno dan Edward M Bodaken terbentuk menjadi
3 tipe: pertama, searah: pemahaman ini bermula dari pemahaman komunikasi yang
berorientasi sumber yaitu semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan
seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respon penerima.
Kedua, interaksi: pandangan ini menganggap
komunikasi sebagi proses sebab-akibat, aksi-reaksi yang arahannya bergantian.
Ketiga, transaksi: konsep ini tidak hanya membatasi unsur sengaja atau tidak
sengaja, adanya respon teramati atau tidak teramati namun juga seluruh
transaksi perilaku saat berlangsungnya komunikasi yang lebih cenderung pada
komunikasi berorientasi penerima. Saat dosen memberi kuliah, komunikasi bukan
saja berdasarkan fakta bahwa mahasiswa menafsirkan isi kuliah tetapi juga dosen
menafsirkan perilaku anggukan atau kerutan kening mahasiswa.
Jadi, kalau dua orang
terlibat dalam komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan, maka komunikasi
akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang
dipercakapkan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan itu belum
tentu menimbulkan kesamaan makna. Dengan lain perkataan, mengerti bahasanya
saja belum tentu mengerti makna yang dibawakan oleh bahasa itu. Jelas bahwa
percakapan antara kedua orang tadi dapat dikatakan komunikatif apabila
kedua-duanya, selain mengerti bahasa yang dipergunakan juga mengerti makna dari
bahan yang dipercakapkan.
C. Unsur-unsur komunikasi
1.
Komuniakator
(communicator)
Yaitu memberi berita,
yang dalam hal ini adalah orang yang berbicara,pengirim berita atau orang yang
memberitakan.
2.
Menyampaikan berita,
Dalam hal ini dapat
dilakukan dengan cara mengatakan, mengirim atau menyiarkan.
3. Berita
Berita yang disampaikan
(message), dapat dalam bentuk perintah, laporan, atau saran.
3.
Komunikan (communicate)
Yaitu orang yang
dituju, pihak penjawab atau para pengunjung. Dengan kata lain orang yang
menerima berita.
4.
Tanggapan atau reaksi
(response), dalam bentuk jawaban atau reaksi. Kelima unsure komunikasi tersebut
(Komuniakator, Menyampaikan berita, Berita-berita yang disampaikan, Komunikan
dan Tanggapan atau reaksi) merupakan kesatuan yang utuh dan bulat, dalam arti
apabila satu unsure tidak ada, maka komunikasi tidak akan terjadi.
D. Bentuk-bentuk komunikasi
a)
Komunikasi verbal
Yaitu salah satu bentuk komunikasi yang lazim digunakan
untuk menyampaikan pesan kepada pihak lain baik secara tertulis maupun pesan.
ü Hasil Observasi:
Berdasarkan observasi dan pengamatan
yang kami lakukan.
Komunikasi verbal yang kami temukan adalah komunikasi yang dilakukan antara
guru dan murid. Dimana komunikasi tersebut termasuk komunikasi secara tertulis.
Karena seorang guru yang menyampaikan materi secara tertulis di papan tulis.
b)
Komunikasi non verbal
Komunikasi yang menggunakan bahasa tubuh seperti
menggunkan gerakan tangan/tubuh sebagai isyarat suatu perbuatan yang mempunyai
arti pesan dalam konteks komunikasi. Mengekspresikan pesan dalam komunikasi
dalam bentuk gambar, menggunakan bahasa sikap yaitu bahasa yang digunakan untuk
menyampaikan pesan/ mengekspresikan pikiran, perasaan seperti bungkam, tak
acuh.
ü Hasil Observasi :
Berdasarkan pengamatan kami di kelas
XII
di MANSDA. Komunikasi verbal juga
beberapa kali kami temui, diantaranya : ketika ada beberapa murid yang sedang
ramai dan gaduh, guru tersebut kemudian diam dan memanggil nama murid yang
bersangkutan sambil mengerutkan dahi. Yang berarti guru tersebut sedang marah.
E. Jenis komunikasi :
a) Komunikasi
individu
Komunikasi yang terjadi dalam diri individu yang
berfungsi untuk mengembangkan kreativitas imajinasi, memahmai dan mengendalikan
diri serta meningkatkan kematangan berpikir sebelum mengambil keputusan.
b) Komunikasi interpersonal
Komunikasi
interpersonal
adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri
komunikator sendiri. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal
secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang
individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi
dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan.
Komunikasi intrapersonal dapat
menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai diri
pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness)
terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh komunikator.
Untuk memahami apa yang terjadi
ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri
mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses
persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang
mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek.
Aktivitas dari komunikasi
intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya
adalah; berdo’a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita
dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi
secara kreatif.
Pemahaman diri pribadi ini
berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita.
Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita
selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri
pribadi ini.
Kesadaran pribadi (self awareness)
memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu
(Fisher 1987:134). Elemen dari kesadaran diri adalah konsep diri, proses
menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita yang
berbeda beda (multiple selves).
c) Komunikasi kelompok
Menurut Anwar Arifin komunikasi kelompok adalah komunikasi
yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti
dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael
Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai
interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang
telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah,
yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota
yang lain secara tepat.
Dari dua definisi di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya
komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk
mencapai tujuan kelompok.
Menurut Dedy Mulyana kelompok adalah sekumpulan orang yang
mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan
bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari
kelompok tersebut. Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi,
atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Pada
komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi, karena itu
kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
Sehingga komunikasi kelompok adalah Interaksi
tatap muka antara tiga orang atau lebih dengan tujuan yang telah diketahui
seperti berbagai informasi, pemecahan masalah mana yang mana anggota-anggotanya
dapat mengingat karakteristik pribadi anggota lain secara tepat.
ü Hasil Observasi :
Berdasarkan hasil observasi kami komunikasi
kelompok sangat banyak kami jumpai. Diantaranya ketika ada beberapa siswa yang
sedang ngobrol bersama. Ini merupakan suatu proses komunikasi kelompok. Karena
mereka terdiri dari lebih 1 orang dan dalam lingkup tertentu.
d)
Komunikasi massa
Merupakan tipe komunikasi manusia (human
communication) adalah komunikasi umum, pesan yang disampaikan tidak ditujukan
pada satu orang saja tapi juga bagi semua orang/ khalayak.
ü Hasil Observasi :
Untuk kegiatan komunikasi masa ini, jenis
komunikasi ini kami temukan ketika seorang guru sedang menjelaskan ataupun
menyampaikan materi kepada siswanya. Dan hal ini dikatakan sebagai komunikasi
masa karena pesan atau materi tidak hanya untuk sati siswa. Melainkan bagi
seluruh siswa dalam kelas.
e) Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi pada umumnya membahas tentang struktur dan fungsi
organisasi,
hubungan antarmanusia, komunikasi dan proses pengorganisasian serta budaya organisasi. Komunikasi organisasi diberi
batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling
bergantung satu sama lain meliputi arus komunikasi vertikal dan horisontal.
ü Hasil Observasi :
Menurut kami, komunikasi organisasi ini muncul
dan ada ketika ada beberapa guru ataupun para staf yang berkumpul di dalam
ruang guru. Kemudian mereka membahas bagaimana kemajuan siswa dalam belajar dan
apa yang harus dilakukan untuk memajukan sekolah tersebut.
F. Tujuan komunikasi:
a. Menemukan
Salah satu tujuan utama komunikasi menyangkut
penenmuan diri (personal discovery). Dengan berkomunikasi kita dapat
memahami secara lebih baik diri kita sendiri dan diri orang lain yang kita ajak
bicara. Tetapi komunikasi juga memungkinkan kita untuk menemukan dunia luar
yang dipenuhi objek, peristiwa dan manusia lain.
b. Untuk
berhubungan
Kita menghabiskan banyak waktu dan energi
komunikasi untuk membina dan memelihara hubungan sosial dengan orang lain.
c. Untuk
meyakinkan
Media massa ada sebaigan besar untuk meyakinkan
kita agar mengubah sikap dan perilaku kita. Sedikit saja dari komunikasi
pribadi kita yang tidak berupa untuk mengubah sikap atau perilaku.
d. Untuk
bermain
Kita menggunkan banyak perilaku komunikasi kota
untuk bermain dan menghibur diri. Kita mendengarkan pelawak, pembicaraan,
musik, film sebagian besar untuk hiburan. Demikian pula banyak dari perilaku
yang dirancang untuk menghibur orang lain.
G. Prinsip komunikasi:
1) Prinsip 1 :
Komunikasi adalah suatu proses simbolik
2) Prinsip 2 :
Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi
3) Prinsip 3 :
Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan
4) Prinsip 4 :
Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat
kesengajaan
5) Prinsip 5 :
Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu
6) Prinsip 6 :
Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi
7) Prinsip 7 :
Komunikasi itu bersifat sistemik
8) Prinsip 8 :
Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin
efektiflah komunikasi
9) Prinsip 9 :
Komunikasi bersifat nonsekuensial
10) Prinsip 10 :
Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional
11) Prinsip 11 :
komunikasi bersifat irreversible
12) Prinsip
12 : Komunikasi bukan panasea untuk
menyelesaikan
berbagai masalah
H. Hambatan-hambatan dalam
berkomunikasi
Pada sebuah proses
komunikasi yang terjadi terkadang kita juga akan mengalami banyak hambatan
dalam berkomunikasi. Beberapa Hambatan Komunikasi adalah :
a.
Hambatan sematik
Komunikasi yg disebabkan oleh fakor bahasa yg digunakan oleh para pelaku
komunikasi
b.
Hambatan mekanik
Komunikasi yang disebabkan oleh factor elektrik, mesin atau media lainnya
c. Hambatan antropologis Hambatan yg disebabkan
oleh perbedaan pada diri manusia
d. Hambatan psikologis Hambatan yg
disebabkan oleh factor kejiwaan .
I. Proses belajar mengajar
sebagai proses komunikasi
Proses belajar mengajar
dapat dikatakan proses komunikasi dimana terjadi proses penyampaian pesan
tertentu dari sumber belajar (guru, instruktur, media pembelajaran dll) kepada
penerima (peserta didik, murid) dengan tujuan agar pesan (berupa topik-topik
pelajaran tertentu) dapat diterima (menjadi milik) oelh peserta didik/murid.
Guru hendaknya menyadari
bahwa didalam kegiatan belajar dan pembelajaran, seungguhnya ia sedang
melaksanakan kegiatan komunikasi. Untuk itu guru harus memilih dan menggunakan
kata-kata yang berada dalam jangkauan/medan pengalaman murid-muridnya, agar
dapat dimengerti dengan baik oleh mereka sehingga pesan pembelajaran yang
disampaikan dapat diterima oleh murid dengan baik.
Kegiatan encoding dan decoding
dalam proses pembelajaran. Encoding merupakan kegiatan yang berkaitan dengan
pemilihan lambang-lambang yang akan digunakan dalam kegiatan
komunikasi oleh komunikator (oleh guru dalam kegiatan pembelajaran). Sedangkan
Decoding adalah kegiatan dalam komunikasi yang dilaksanakan oleh penerima pesan
(audience, murid) dimana penerima berusaha menangkap makna pesan yang
disampaikan melalui lambang-lambang oleh komunikator.
Agar penyampaian pesan
pembelajaran mencapai “sharing” yang diinginkan maka dilakukan penyampaian
dengan lebih konkret dan jelas, selain dengan memilih lambang verbal yang
berada dalam medan pengalaman murid. Misalnya menggunkaan alat peraga dan media
pembelajaran seperti chart, diagram, grafik, gambar diam dll.
Media pembelajaran dapat
digunakan dalam 2 macam cara dalam proses belajar mengajar:
·
Sebagai alat peraga untuk menjelaskan materi
pelajaran yang disampaikan keapda murid-murid.
·
Pemanfaatan media pembelajaran sebagai saluran
komunikasi berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pesan pembelajaran
terutama oleh media belajar mandiri seperti modul, Computer Based Instruction
(CAI).
J.
Komunikasi
yang efektif untuk kelancaran proses pembelajaran
Terkait dengan proses
pembelajaran, komunikasi dikatakan efektif jika pesan yang dalam hal ini adalah
materi pelajaran dapat diterima dan dipahami, serta menimbulkan umpan balik
yang positif oleh siswa. Komunikasi efektif dalam pembelajaran harus didukung
dengan keterampilan komunikasi antar pribadi yang harus dimiliki oleh seorang
guru.
Komunikasi antar pribadi
merupakan komunikasi yang berlangsung secara informal antara dua orang
individu. Komunikasi ini berlangsung dari hati ke hati, karena diantara
keduabelah pihak terdapat hubungan saling mempercayai. Komunikasi antar pribadi
akan berlangsung efektif apabila pihak yang berkomunikasi menguasai
keterampilan komunikasi antar pribadi.
Dalam kegiatan belajar
mengajar, komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan, agar terjadi
hubungan yang harmonis antara pengajar dengan peserta belajar. Keefektifan
komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar ini sangat tergantung dari kedua
belah pihak. Akan tetapi karena pengajar yang memegang kendali kelas, maka
tanggung jawab terjadinya komunikasi dalam kelas yang sehat dan efektif
terletak pada tangan pengajar. Keberhasilan pengajar dalam mengemban tanggung
jawab tersebut dipengaruhi oleh keterampilannya dalam melakukan komunikasi ini.
Komunikasi dalam
bentuk diskusi dalam proses belajar mengajar berlangsung amat efektif, hal ini
disebabkan oleh dua hal:
a. materi yang didiskusikan meningkatkan
intelektualitas,
b. komunikasi dalam diskusi bersifat
intracommunication dan intercommunication.
Yang dimaksud dengan
intracommunication atau intrakomunikasi adalah komunikasi yang terjadi pada
diri seseorang. Ia berkomunikasi dengan dirinya sendiri sebagai persiapan untuk
melalukan intercommunication dengan orang lain.
Untuk menyamakan makna
antara guru/dosen dan siswa ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian:
1.
Semua komponen dalam komunikasi
pembelajaran diusahakan dalam kondisi ideal/baik:
a.
pesan (message) harus jelas, sesuai dengan kurikulum, terstruktur secara jelas,
menarik dan sesuai dengan tingkat intelejensi siswa.
b.
Sumber/guru harus berkompetensi terhadap materi ajar, media yang digunakan, mampu
menyandikan dengan jelas, mampu menyampaikan tanpa pembiasan dan menarik
perhatian serta mampu membangkitkan motivasi diri dan siswa dalam proses
interaksi dan transaksi komunikasi.
c. penerima/siswa harus dalam kondisi yang
baik/sehat untuk tercapainya prasyarat pembelajaran yang baik.
d.
lingkungan (setting) mampu mendukung penuh proses komunikasi misalnya
pencahayaan, kenyamanan ruang dan sebagainya.
e.
materi/media software dalam kondisi
baik/tidak rusak (sesuai dengan isi/pesan).
f.
alat (device) tidak rusak sehingga tidak
membiaskan arti (audiovisual). Media yang menarik (dapat dilihat dan didengar)
akan memudahkan siswa dalam retensi dan pengingatan kembali pesan yang pernah
didapat.
g.
teknik/prosedur penggunaan semua komponen
pembelajaran harus memiliki instruksi jelas dan terprogram dalam pengelolaan.
2.
Proses encoding dan decoding tidak
mengalami pembiasan arti/makna.
3. Penganalogian harus dilakukan untuk
membantu membangkitkan pengertian baru dengan pengertian lama yang pernah
mereka dapat.
4. Meminimalisasi
tingkat gangguan (barrier/noise) dalam proses komunikasi mulai dari proses
penyandian sumber (semantical), proses penyimbolan dalam software dan hardware
(mechanical) dan proses penafsiran penerima (psychological).
5. Feedback
dan respons harus ditingkatkan intensitasnya untuk mengukur efektifitas dan
efisiensi ketercapaian.
6. Pengulangan
(repetition) harus dilakukan secara kontinyu maupun progresif.
7. Evaluasi
proses dan hasil harus dilakukan untuk melihat kekurangan dan perbaikan.
8. Aspek
pendukung dalam komunikasi; fisik, psikologi, sosial dan waktu harus dibentuk
dan diselaraskan dengan kondisi komunikasi yang sedang berlangsung agar tidak
menghambat proses komunikasi pembelajaran.
Gambar 10.1 Seorang Guru yang Berusaha
Berkomunikasi Efektif
Untuk Kelancaran Pembelajaran
K.
Teori
komunikasi yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran
Beberapa
teori komunikasi yang bisa diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar adalah :
1.
Teori Humanisme
Kurikulum
ini menekankan pada pembagian pengawasan dan tanggungjawab bersama antar
seluruh siswa didik. Humanistic curiculum menekankan pada pola pikir, perasaan
dan tingkah laku siswa dengan menghubungkan materi yang diajarkan pada
kebutuhan dasar dan kebutuhan hidup siswa. Teori ini menganggap bahwa setiap
siswa sebagai objek pembelajaran memiliki alasan yang berbeda dalam mempelajari
bahasa. Tujuan utama dari teori ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa
agar bisa berkembang di tengah masyarakat. The deepest goal or purpose is to develop
the whole persons within a human society. (McNeil,1977)
2.
Teori Konstruktvisme
Jean Piaget dan Leu Vygotski adalah
dua nama yang selalu diasosiasikan dengan kontruktivisme. Ahli kontruktivisme
menyatakan bahwa manusia membentuk versi mereka sendiri terhadap kenyataan,
mereka menggandakan beragam cara untuk mengetahui dan menggambarkan sesuatu
untuk mempelajari pemerolehan bahasa pertama dan kedua.
3.
Teori
Sibernetika
Istilah
sibernetika berasal dari bahasa Yunani (Cybernetics berarti pilot). Istilah
Cybernetics yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi sibernetika,
pertama kali digunakan tahun 1945 oleh Nobert Wiener dalam bukunya yang
berjudul Cybernetics. Sibernetika adalah teori sistem pengontrol yang
didasarkan pada komunikasi (penyampaian informasi) antara sistem dan lingkungan
dan antar sistem, pengontrol (feedback) dari sistem berfungsi dengan
memperhatikan lingkungan. Seiring perkembangan teknologi informasi yang
diluncurkan oleh para ilmuwan dari Amerika sejak tahun 1966, penggunaan komputer
sebagai media untuk menyampaikan informasi berkembang pesat.
4.
Teori
Classical Conditioning (Pavlov dan
Watson)
Menurut teori conditioning (Ivan
Petrovich Pavlo:1849-1936), belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi
karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi
(response). Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan
syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori
conditioning ialah adanya latihan-latihan yang kontinu. Yang diutamakan dalam
teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.
5.
Teori Operant
Conditioning (Skinner)
Skinner (1904-1990), menganggap
reward dan rierforcement merupakan factor penting dalan belajar. Skinner
berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal mengontrol tingkah laku. Pda
teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan
lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. . Operans
conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operans yang dapat
mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai
keinginan.
6.
Teori Conectionism
(Thorndike)
Menurut teori trial and error
(mencoba-coba dan gagal) ini, setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi
baru akan melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya coba-coba secara membabi
buta jika dalam usaha mencoba-coba itu secara kebetulan ada perbuatan yang
dianggap memenuhi tuntutan situasi, maka perbuatan yang kebetulan cocok itu
kemudian “dipegangnya”. Karena latihan yang terus menerus maka waktu yang
dipergunakan antuk melakukan perbuatan yang cocok itu makin lama makin efisien.
7.
Teori Systematic
Behavior (Hull)
Clark
C Hull mengikuti jejak Thorndike dalam usahanya mengembangkan teori belajar.
Prinsip-prinsip yang digunakanya mirip dengan apa yang dikemukakan oleh para
behavioris yaitu dasar stimulus-respon dan adanya reinforcement. Clark C. Hull
mengemukakan teorinya, yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong”
(oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, ambisi) harus ada dalam diri seseorang
yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan
kebutuhan itu.
Dalam
hal ini efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan
kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar itu oleh respon-respon
yang dibuat individu itu.
Setiap
obyek, kejadian atau situasi dapat mempunyai nilai sebagai penguat apabila hal
itu dihubungkan dengan penurunan terhadap suatu keadaan deprivasi (kekurangan)
pada diri individu itu; yaitu jika obyek, kejadian atau situasi tadi dapat
menjawab suatu kebutuhan pada saat individu itu melakukan respon.
L. Implementasi teori
komunikasi dalam kegiatan belajar di sekolah
1.
Teori
Humanistic
Belajar
adalah menekankan pentingnya isi dari proses belajar yang tujuannya adalah memanusiakan
manusia atau mencapai aktualisasi diri. Aplikasi teori humanisme dalam
pembelajaran guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan
pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses
belajar.
Hal
ini dapat diterapkan melalui kegiatan diskusi, membahas materi secara
berkelompok sehingga siswa dapat mengemukakan pendapatnya masing-masing di
depan kelas. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang
mengerti terhadap materi yang diajarkan.
Pembelajaran
berdasarkan teori humanisme ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi
pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan
sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan
aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar
dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Orientasi
yang mendukung saat ini adalah lingkungan harus tidak mengancam baik secara
psikologis, emosional dan fisikal. Sementara banyak pengajar akan setuju bahwa
ini adalah hal yang penting, mereka juga akan mengusung sebuah kebutuhan untuk
mengembangkan kemampuan murid untuk berhadapan dengan pengharapan eksternal.
Contoh Kasus :
1.
Kasus 1
Dalam
observasi yang kita lakukan di MANSDA,
teori humanistic ini diterapkan oleh beberapa guru. Hal ini dibuktikan dengan
observasi pertama yang kita lakukan di kelas XII MANSDA.
guru
tersebut memacu murid untuk meningkatkan semangat dengan memberikan contoh
materi berdasarkan lingkungan yang mereka lihat. Dan kurang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang mengerti.
Gambar
12. 1 Menunjukkan seorang Murid
yang Aktif
2.
Kasus 2
Dalam
kelas yang kami amati guru
yang mengajar sangat aktif dan selalu memantau seluruh muridnya mulai dari yang
paling depan sampai paling belakang. Dan selalu berusaha mendekati muridnya.
2.
Teori Konstruktvisme
Pembelajaran
harus dibangun secara aktif oleh pembelajar itu sendiri dari pada dijelaskan
secara rinci oleh orang lain. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh
didapatkan dari pengalaman.
Namun
demikian, dalam membangun pengalaman siswa harus memiliki kesempatan untuk
mengungkapkan pikirannya, menguji ide-ide tersebut melalui eksperimen dan
percakapan atau tanya jawab, serta untuk mengamati dan membandingkan fenomena
yang sedang diujikan dengan aspek lain dalam kehidupan mereka.
Selain
itu juga guru memainkan peranan penting dalam mendorong siswa untuk
memperhatikan seluruh proses pembelajaran serta menawarkan berbagai cara
eksplorasi dan pendekatan.
Contoh kasus :
Masih dalam kelas yang sama, hal
ini juga kami temui. Dimana di kelas ini ada pembelajaran siswa secara aktif ada
beberapa siswa yang aktif menjawab, dan gurunya juga sangat aktif memotivasi
muridnya.Guru tersebut berusaha mencari informasi apa yang dimiliki
siswa-siswanya.
3. Teori Sibernetik
Teknologi ini juga dimanfaatkan
dunia pendidikan terutama guru untuk berkomunikasi sesama relasi, mencari
handout (buku materi ajar), menerangkan materi pelajaran atau pelatihan, bahkan
untuk mengevaluasi hasil belajar siswa. Prinsip dasar teori sibernetik yaitu
menghargai adanya 'perbedaan', bahwa suatu hal akan memiliki perbedaan dengan
yang lainnya, atau bahwa sesuatu akan berubah seiring perkembangan waktu. Pembelajaran
digambarkan sebagai : INPUT => PROSES => OUTPUT.
Contoh
kasus :
Dalam
observasi yang kami lakukan, teori ini kami jumpai.Dalam kelas ini, kami
melihat seorang guru yang dengan sabar menyamakan pendapat dari beberapa siswa
yang saling berargument. Disini seorang guru menghargai adanya perbedaan dari
beberapa muridnya. Tapi, pada akhirnya tetap menghasilkan output yang sama.
4.
Teori Classical
Conditioning (Pavlov dan Watson)
Penganut teori ini mengatakan bahwa
segala tingkah laku manusia. juga tidak lain adalah hasil daripada
conditioning. Yakni hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan
mereaksi terhadap syarat-syarat/perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya
di dalam kehidupannya.
Kelemahan dari teori conditioning
ini ialah, teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara
otomatis; keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya.
Peranan latihan/kebiasaan terlalu
ditonjolkan. Sedangkan kita tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu,
manusia tidak semata-mata tergantung kepada pengaruh dari luar. Aku atau
pribadinya sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentukan perbuatan dan
reaksi apa yang akan dilakukannya.
Teori conditioning ini memang tepat
kalau kita hubungkan dengan kehidupan binatang. Pada manusia teori ini hanya
dapat kita terima dalam hal-hal belajar tertentu saja umpamanya dalam belajar
yang mengenai skills (kecakapan-kecakapan) tertentu dan mengenai pembiasaan
pada anak-anak kecil.
Contoh
Kasus :
Penerapan
teori ini juga kami temukan pada pembelajaran yang dilakukan pada kelas. Dimana
guru tersebut memberikan latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuan siswanya
yang merupakan siswa-siswa pilihan. Jadi, dengan adanya latihan-latihan
tersebut seorang guru berharap siswanya akan lebih mudah dan terampil dalam
menjawab soal
Gambar 12.4
menunjukkan siswa yang sedang mengoreksi
Soal bersama
5.
Teori Operant
Conditioning (Skinner)
Operant
conditing menjamin respon terhadap stimuli. Bila tidak menunjukkan stimuli maka
guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru
memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar
sehingga tercapai tujuan yang diinginkan.
Prinsip
belajar Skinners adalah :
· Hasil
belajar harus segera diberitahukan pada siswa jika salah dibetulkan jika benar
diberi penguat.
· Proses
belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan
sebagai sistem modul.
· Dalam
proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri, tidak digunakan
hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah untuk menghindari hukuman.
· Tingkah
laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan
dengan digunakannya jadwal variable ratio reinforcer.
· Dalam
pembelajaran digunakan shapping.
Contoh Kasus :
1.
Kasus 1
Dalam
teori ini seorang guru harus memberikan stimulus yang menarik siswa. Untuk bisa
mendapatkan respon yang baik juga. Sehingga, pada kelas yang kami temui,
seorang guru memberikan stimulus pujian.
Dan hanya diberikan pada siswa yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar.
Dengan begitu, para siswa akan lebih antusias dan bersemangat dalam menjawab
peertanyaan-pertanyaan yang diberikan.
2.
Kasus 2
Dalam kelas ini,
selama kami melakukanpengamatan. Guru tersebut juga memberikan stimulus dengan
menepuk bahu siswanya yang berhasil menjawab,guru tersebut juga selalu
tersenyum pada siswa-siwanya. Sehingga kegiatan belajar terasa menyenangkan dan membuat siswa merasa
nyaman.
6.
Teori Conectionism
(Thorndike)
Jadi,
proses belajar menurut Thorndike melalui proses:
1
) trial and error (mencoba-coba dan mengalami kegagalan), dan
2)
law of effect; Yang berarti bahwa segala tingkah laku yang berakibatkan suatu
keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan
dipelajari dengan sebaik-baiknya. Sedangkan segala tingkah laku yang berakibat
tidak menyenangkanakan dihilangkan atau dilupakannya. Tingkah laku ini terjadi
secara otomatis.
Otomatisme
dalam belajar itu dapat dilatih dengan syarat-syarat tertentu, pada binatang
juga pada manusia.Thorndike melihat bahwa organisme itu (juga manusia) sebagai
mekanismus; hanya bergerak atau bertindak jika ada perangsang yang mempengaruhi
dirinya.
Terjadinya
otomatisme dalam belajar menurut Thorndike disebabkan adanya law of effect itu.
Dalam kehidupan sehari-hari law of effect itu dapat terlihat dalam hal memberi
penghargaan atau ganjaran dan juga dalam hal memberi hukuman dalam pendidikan.
Akan
tetapi menurut Thorndike yang lebih memegang peranan dalam pendidikan ialah hal
memberi penghargaan atau ganjaran dan itulah yang lebih dianjurkan. Karena
adanya law of effect terjadilah hubungan (connection) atau asosiasi antara
tingkah laku reaksi yang dapat mendatangkan sesuatu dengan hasil biaya
(effect). Karena adanya koneksi antara reaksi dengan hasilnya itu maka teori
Thorndike disebut juga Connectionism.
Contoh Kasus :
Dalam
teori ini. Penerapannya masih kami jumpai pada kelas yang sama dimana seorang
guru kelas XII.
Guru tersebut terus memacu siswa-siswanya dalam menjawab pertanyaan yang
diberikan. Meskipun jawaban tersebut salah.
Jadi,
pada kelas ini guru tersebut menggunakan teori trial and error. Jadi, terus mencoba menjawab, sampai jawaban yang
disampaikan siswa tersebut benar.
7. Teori
Systematic Behavior (Hull)
Prinsip penguat (reinforcer) menggunakan
seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari dorongan biologis yang merupakan
kebutuhan utama seseorang sampai pada hasil-hasil yang memberikan ganjaran bagi
seseorang.
Jadi, prinsip yang utama adalah
suatu kebutuhan atau motif harus ada pada seseorang sebelum belajar itu
terjadi; dan bahwa apa yang dipelajari itu harus diamati oleh orang yang
belajar sebagai sesuatu yang dapat mengurangi kekuatan kebutuhannya atau
memuaskan kebutuhannya.
Contoh
Kasus :
1. Dalam
observasi yang kami lakukan, belum ada kelas yang menerapkan teori ini. Dimana
pada teori ini seorang guru menyampaikan tujuan ataupun manfaat apabila
mempelajari mata pelajaran tersebut. Sehingga belum ada motivasi yang dilakukan
seorang guru sebelum memulai aktivitas belajar mengajar.
2.
Selain itu, dalam
pengajaran ditemukan kasus guru yang memotivasi siswanya dengan cara memberikan
pujian kepada siswa yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar maka guru
tersebut mengucapkan kalimat “YA JAWABANNYA BENAR BOLEH PULANG” sebagai
motivasi kepada siswa agar siswa memberikan yang baik yaitu dengan lebih giat
belajar agar bisa menjawab pertanyaan dengan benar.
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
1. Proses belajar mengajar
dapat dikatakan proses komunikasi dimana terjadi proses penyampaian pesan
tertentu dari sumber belajar (guru, instruktur, media pembelajaran dll) kepada
penerima (peserta didik, murid) dengan tujuan agar pesan (berupa topik-topik
pelajaran tertentu) dapat diterima (menjadi milik) oleh peserta didik/murid.
2. Komunikasi dikatakan
efektif dalam hal ini adalah pesan yang berupa materi pelajaran dapat
diterima dan dipahami, serta dapat menghasilkan
feedback/ respon yang positif oleh siswa. Komunikasi efektif dalam pembelajaran
harus didukung dengan keterampilan berkomunikasi yang baik dari seorang guru sehinnga antara guru dengan siswa tidak terjadi salah mengerti dan menginterpretasikan
suatu informasi/ pesan yang berupa materi pelajaran.
3. Teori-teori komunikasi
yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran adalah :
a. Teori
Humanistic
b. Teori Konstruktvisme
c. Teori Sibernetik
d. Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)
e.
Teori Operant Conditioning (Skinner)
f. Teori Conectionism (Thorndike)
g. Teori Systematic Behavior (Hull)
4. Efektifitas sebuah proses komunikasi
tergantung pada komponen yang terkait. Semakin baik komponen, gangguan-gangguan
dalam
komunikasi akan
terhindari.
Feedback atau respon akan lebih mudah dimengerti
oleh penerima pesan/ siswa. Proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan satu
bentuk komunikasi yang terjalin antara komunikator dalam hal ini adalah
seorang pengajar
yang menyalurkan pesan berupa materi pengajaran kepada komunikan yaitu pelajar
melalui media lisan atau dengan menggunakan bantuan teknologi komunikasi lain,
sebagai akibatnya pelajar akan mengetahui materi yang disampaikan dan memanfaatkan
pesan yang telah diterima oleh pelajar tersebut, dan inilah tujuan
utama dari proses belajar mengajar. Kemampuan/keterampilan guru dalam melakukan
kegiatan komunikasi
akan mempengaruhi proses yang akhirnya berujung pada hasil. Siswa yang
cerdas adalah siswa yang lebih mampu lebih dahulu memahami apa yang disampaikan
oleh seorang guru, kemudian siswa tersebut akan memberitahukan kepada siswa
lain yang sekiranya kurang mampu menangkap pesan dengan cepat.
B.
Saran
Berdasarkan
latar belakang masalah yang muncul, sampai pada pembahasan beberapa rumusan
masalah diatas. Maka diharapkan :
1. Seorang
guru lebih memperhatikan kondisi dan situasi kelas sebelum memulai kegiatan
belajar mengajar.
2. Sebaiknya
seorang guru lebih memahami metode pembelajaran seperti apa yang sesuai dengan
keadaan kelas dan siswanya.
3. Selain
dari segi tenaga pendidik, siswa seharusnya
juga bisa lebih memperhatikan para guru mereka.
4. Sebaiknya
seorang guru harus bisa lebih menggunakan gaya bahasa yang sekiranya mudah
untuk dipahami oleh siswanya.
LAMPIRAN
RANGKUMAN
KEGIATAN OBSERVASI DI SD PABEAN 2
1.
KEGIATAN
PERTAMA
Dalam observasi
ini ada beberapa kegiatan pengamatan yang kami lakukan. Mulai dari pengamatan
dalam kelas sampai pengamatan di luar kelas. Untuk kegiatan pertama, pengamatan
kami lakukan di dalam kelas, yaitu, di kelas XI.
Di kelas ini
kami mengamati beberapa hal, ketika proses pembelajaran. Diantaranya bagaimana
proses komunikasi yang terjadi antara guru dengan siswa, bagaimana keadaan
kelasya, aktif ataupun pasif. Kemudian bagaimana suasana di kelas, bagaimana
hubungan antara sesama siswa dalam kelas tersebut. Dan kami
juga mengamati metode dan media yang digunakan oleh guru ketika di dalam kelas.
Selain itu, di
sela-sela pengamatan ini, kami juga mengamati beberapa siswa yang dengan asik
bermain sendiri dengan siswa lainnya ketika proses belajar mengajar
berlangsung.
2.
KEGIATAN
KEDUA
Setelah
melakukan pengamatan di dalam kelas, pengamatan selanjutnya kami lakukan di
luar kelas. Tepatnya di luar kegiatan belajar mengajar. Kemudian kami mencoba
mangajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa siswa yang sedang istirahat
setelah selesai melakukan kegiatan olah raga.
Ada beberapa
pertanyaan yang kami ajukan kepada mereka. Diantaranya pertanyaan seputar
bagaimana perasaan mereka bersekolah di tempat tersebut, bagaimana guru-guru
mereka mengajar, apakah mereka bisa menerima atau tidak. Apakah
komunikasi antara siswa dan guru mereka terjalin dengan baik atau tidak, dan
bagaimana respon mereka. Bagaimanakah fasilitas yang ada
disekolah yang menunjang kenyamanan dalam proses belajar mengajar. Serta kami
juga mengajukan pertanyaan seputar kegiatan komunikasi yang tidak termasuk
dalam proses belajar mengajar (non akademik).
3.
KEGIATAN
KETIGA
Selanjutnya kami
mencoba melakukan pengamatan di kantin sekolah tersebut. Sebelum kami
mengajukan beberapa pertanyaan, kami menemukan sesuatu yang beda dari kantin
tersebut. Kami melihat kantin tersebut dijaga oleh beberapa siswa dan mereka
juga ikut melayani teman-teman mereka
Kemudian kami
bertanya pada pengelola kantin. Ternyata, hal ini memang sudah dibiasakan
kepada para siswa untuk melatih kejujuran dan kecakapan dalam berkomunikasi. Dan
kegiatan terakhir yang kami lakukan adalah melakukan tanya jawab dengan
beberapa guru di ruang guru mengenai sistem pembelajaran dan kegiatan-kegiatan
lainnya, hingga kemudian berpamitan.
HASIL
DARI KEGIATAN WAWANCARA
WAWANCARA
1
· Wawancara
pertama dilakukan di dalam kelas XI IPS 2. Setelah mata pelajaran Akuntansi
yang diisi dengan presentasi beberapa siswa berakhir, kami diberi kesempatan
untuk menyapa siswa di kelas ini. Untuk wawancara kali ini, kami menyapa mereka
secara global. Dan inilah hasil wawancara kami dengan sebagian siswa kelas XI
IPS 2 MAN Sidoarjo.
· Berikut
adalah hasil wawancara kami dengan mereka :
Silmy : assalamualaikum adik – adik?
Siswa : waalaikumsalam kak!
Silmy : apa kabar adik – adik?
Siswa : alhamdulillah kak, baik.
Silmy :kenalin, ini kakak – kakak dari
Universitas Negeri Surabaya, kita akan observasi di sekolahnya adik – adik..
makasih ya, kakak – kakaknya uda diizini untuk masuk kelasnya adik – adik,,,
Siswa : iya kak, sama – sama,,,
Silmy : oya, bagaimana nih rasanya setelah
presentasi akuntansi?? Pusing gak nih???
Siswa : iya kak, pusing banget... meskipun
akuntansi itu mata pelajaran anak ips,,, tapi pusing banget kak,,,,
Silmy : lho, kenapa adik – adik pusing
dengan mata pelajaran akuntansi? Apa gurunya yg kurang enak? Atau adik –
adiknya yang malas belajar nih???
Siswa : ibu gurunya sih enak kak, malah itu
jadi salah satu guru favorit kita, tapi... kitanya aja yang malas untuk
perhitungan akuntansi, apalagi kalau sudah capek ngitung, eh ternyata salah.
Silmy : oke deh adik – adik,, kalian yang
semangat ya,, biar bisa menggapai cita – citanya....
Oya, ngomong – ngomong
masalah konumikasi, menurut adik – adik gimana sih komunikasi di kelas ini???
Siswa : komunikasi di kelas ini bagus banget
kak,,, sampai – sampai sering tengkar. hahahaha (Semua siswa laki – laki
tertawa)
Silmy : lho,,,, kok sering tengkar? Kenapa
itu???
Siswa : sebenarnya sih gak tengkar kak, tapi
Cuma bercanda aja,,, anak – anak cowok itu seneng godain anak cewek, habisnya
centil – centil sih kak,,,,
Silmy : ow gitu ceritanya, berarti
tengkarnya gak beneran kan???
Ya udah kalau gitu, yang
penting kalian akrab satu sama lain, agar komunikasinya bisa berjalan dengan
baik ya adik – adik,,,,
Terimakasih waktunya adik –
adik,,
Siswa : Iya kak sama – sama, kapan – kapan
main kesini lagi ya kak...
Silmy : Insyaallah ya adik –adik kalau ada
kesempatan, ya uda adik – adik selamat belajar, assalamualakum.
Siswa : iya kak, terimakasih.
Waalaikumsalam.
WAWANCARA
2
· Wawancara
kami yang kedua ini, kami tujukan kepada beberapa murid yang kebetulan sedang
beristirahat setelah mengikuti Mata Pelajaran Olah Raga. Mereka adalah para
murid Kelas XI IPS 2 MAN Sidoarjo. Wawancara kami kali ini mengenai bagaimana
komunikasi antara seorang guru dan mereka.
· Berikut
adalah hasil tanya jawab kami dengan beberapa murid :
Anggun : selamat pagi adik-adik ?
Siswa : selamat pagi kak.
Enny : ini masih olah raga? Apa sudah
selesai, atau sedang istirahat dek?
Siswa : masih istirahat kak.
Anggun :berarti kakak boleh tanya-tanya sebentar
ya dek tentang bagaimana sih komunikasi antara guru dan murid disini?
Siswa : ya kak, nggak apa-apa kok kak.
Enny : kalau menurut adik, komunikasi
antara guru dan siswa di MAN ini sudah efektifkah?
Siswa : kalau dibilang efektif ya tidak kak,
atau mungkin belum. Soalnya tidak semua siswa disini kenal dengan semua guru, bahkan
kadang banyak yang belum tau nama guru....
Anggun : ow gitu ya, berarti kalau bertemu di
luar kelas atau di luar sekolah tidak bisa menyapa donk dik????
Siswa : ya kadang nyapa kak, tapi kalau gak
tau namanya ya senyum aja.
Enny : oke, tidak apa – apa dik, yang
penting uda nyapa, agar tali sillaturrahimnya tetap terjaga ya... Oya, kalau
sama kepala sekolahnya gimana?
Siswa :kalau Kepala Sekolahnya ramah kak,
meskipun jarang mengajar kita dan mungkin tidak kenal huga dengan kita, tapi
beliau selalu senyum dan nyapa kak.
Anggun : Ow begitu, berarti beliau figur yang
baik dan patut dicontoh ya adik – adik?
Siswa : Iya kak.... patut banget dicontoh.
Enny : oke deh kalau gitu, makasih ya adik
– adik atas waktunya.. Met istirahat...
Siswa : iya kak sama – sama, makasih kak.
WAWANCARA
3
· Wawancara
kami yang ketiga ini, dengan salah satu guru yang ada di MAN Sidoarjo ini
mengenai fasilitas – fasilitas yang mendukung berjalannya komunikasi di sekolah
ini.
· Berikut
adalah hasil wawancara kami dengan beliau :
Husnia : selamat pagi ibu, maaf mengganggu
waktunya. Bisa
kami bertanya - tanya sebentar ibu?
Ibu Guru : ya mbak, tidak apa-apa. Silahkan !!!
Mahdum :maaf sebelumnya ibu. Kami mau bertanya
tentang fasilitas yang ada di sekolah ini, apa menurut ibu sudah lengkap untuk
menunjang komunikasi siswa atau guru?
Ibu Guru : kalau menurut saya, dibilang lengkap ya
kurang pantas mbak, karena banyak fasilitas yang belum ada disini.
Husnia : apa saja contohnya fasilitas yang
belum ada itu bu?
Ibu Guru : contohnya laboratorium bahasa dan ips,
Wi-Fi juga tidak selalu connact, jadi ya itu merugikan siswa dan guru, menurut
saya.
Mahdum :Baiklah ibu, terimakasih atas waktu ibu
untuk membantu berjalannya observasi kami. Semoga saja fasilitas untuk
menunjang komunikasi disini segera terlengkapi bu.
Ibu Guru : Iya mbak, sama – sama mbak.
DOKUMENTASI
PADA SAAT OBSERVASI DI MAN SIDOARJO
Foto
pada saat datang dan bertemu Kepala Sekolah
Foto
keadaan kelas XI IPS 2 saat mengikuti pelajaran
Foto
pada saat wawancara dengan salah satu siswi di kelas XI IPS 2
Foto
dengan siswa – siswi dan Ibu Guru kelas XI IPS 2
Foto
setelah menempel Mading di kelas XI IPS 2
PROFIL
SEKOLAH
I.
SEKOLAH
1)
Nama Sekolah : MADRASAH ALIYAH NEGERI SIDOARJO
2)
Status : Negeri
3)
Alamat Sekolah : Jalan Stadion Jenggolo No 2
Sidoarjo
4)
Kecamatan : Sidoarjo
5)
Kabupaten/Kota : Sidoarjo
6)
Provinsi : Jawa Timur
7)
Jumlah Kelas : 36
8)
II.
KEPALA SEKOLAH
1. Nama :
Drs. Kusnan
2. NIP :
195605181985031003
3. Jenis Kelamin : Laki-Laki
4.
Pendidikan Terakhir :
S1
III. VISI DAN MISI SEKOLAH
A. VISI
Mewujudkan siswa yang berprestasi dan berakhlak mulia
B. MISI
1)
Meningkatkan keimanan,
ketaqwaan kepada ALLAH SWT dan berakhlaq mulia serta menumbuhkan semangat
menuntut ilmu keagamaan Islam dan mengamalkannya.
2)
Melaksanakan bimbingan
dan pembelajaran secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan serta
pembelajarann bertaraf internasional, sehingga setiap siswa dapat berkembang
secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki.
3)
Menumbuhkan semangat
keunggulan secara intensif dan daya saing yang sehat kepada seluruh warga
madrasah baik dalam prestasi akademik maupun non akademik.
4)
Membantu, memotivasi,
dan memfasilitasi siswa untuk mengembangkan kemampuan, bakat dan minatnya,
sehingga dapat dikembangkan secara lebih optimal dan memiliki daya saing yang
tinggi.
5)
Mengembangkan life-skill
dalam setiap aktifitas pendidikan.
6)
Menerapkan manajemen
partisipasif dengan melibatkan seluruh warga madrasah, komite madrasah dan
stakeholders dalam pengambilan keputusan.
7)
Membangun kesadaran
ukhuwah islamiyah dan mewujudkannya dalam kehidupan masyarakat.
8)
Mewujudkan madrasah
sebagai lembaga pendidikan yang mendapat kepercayaan dari masyarakat.
IV. Keadaan Guru Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo
No
|
Nama
|
Jenis Kelamin
|
Mengajar Kelas
|
Status Kepegawaian
|
Jabatan
|
1
|
Drs. Kusnan
|
L
|
-
|
PNS
|
Kepala Sekolah
|
2
|
Drs. Khoifullah, M.Pd
|
L
|
XII
|
PNS
|
|
3
|
Drs. Ahmad Fauzi, M.Pd
|
L
|
XII
|
PNS
|
|
4
|
Drs. Sodiq Ichsan
|
L
|
XII
|
PNS
|
Guru B.Indonesia
|
5
|
Drs. Sugeng Amperanto
|
L
|
XII
|
PNS
|
Guru Geografi
|
6
|
Drs. Anwar, M.Ag
|
L
|
XII
|
PNS
|
Guru Qur’an Hadits
|
7
|
Tri Sudarwanti, S.Pd
|
P
|
XI, XII
|
PNS
|
Guru Ekonomi
|
8
|
Dra. Fausy Rika Erawati
|
P
|
X
|
PNS
|
Guru Kimia
|
9
|
Khoirul Bariyah, S.Pd.I
|
P
|
XI
|
PNS
|
Guru B.Arab
|
10
|
Idrus, S.Pd
|
L
|
XII
|
PNS
|
Guru Penjaskes
|
11
|
Amik Amri Rahmadhi, SS, M.Pd
|
L
|
XII
|
PNS
|
Guru B.Inggris
|
12
|
M. Ainun Najib, S.Ag
|
L
|
X,XII
|
PNS
|
Guru Aqidah Akhlak
|
13
|
Arini Indah N. S.Pd, M.Pd
|
P
|
XII
|
PNS
|
Guru Geografi
|
14
|
Lilik Sumarti, S.Pd
|
P
|
X
|
PNS
|
Guru Ekonomi
|
15
|
Drs. Chilmy
|
L
|
X, XII
|
PNS
|
Guru Kesenian
|
16
|
Abdulloh Muthik, S.Pd
|
L
|
X
|
PNS
|
Guru Fisika
|
17
|
Drs. Miftachul Munir
|
L
|
XII
|
PNS
|
Guru Matematika
|
18
|
Niswati, S,Pd
|
P
|
XII
|
PNS
|
Guru B.Inggris
|
19
|
Machnuri, BA
|
L
|
X
|
PNS
|
Guru Fiqih
|
20
|
Dra. Meistuti Setijorini
|
P
|
XII
|
PNS
|
Guru Matematika
|
21
|
Drs. Sukoyo
|
L
|
XII
|
PNS
|
Guru Geografi
|
22
|
Dra. Trisnowati
|
P
|
XII
|
PNS
|
Guru Sejarah
|
23
|
Nanang Al-Haris, ST
|
L
|
X, XII
|
PNS
|
Guru Elektro
|
24
|
Rukhul Fitriyah, S.Pd
|
P
|
X
|
PNS
|
Guru Biologi
|
25
|
Yuli Naharul F, S.Pd, M.Psi
|
P
|
|
PNS
|
Guru BP
|
26
|
Hatta, S, Ag, M.Ag
|
L
|
XII
|
PNS
|
Guru Muhaddatsah
|
27
|
Mawahiburrohman, S.Ag
|
L
|
|
|
Staf TU
|
28
|
Izzatul Hayati, S,Sos
|
P
|
X, XII
|
PNS
|
Guru Sosiologi
|
29
|
Drs. Isa Ansori
|
L
|
X, XII
|
PNS
|
Guru Kewarganegaraan
|
V.
PRASARANA SEKOLAH
1.
Jenis Sarana Yang
Dimiliki Sekolah
No
|
Jenis
|
Keberadaan
|
Fungsi
|
Ada
|
Tidak Ada
|
Ya
|
Tidak
|
1
|
Ruang Kepala Sekolah
|
√
|
|
√
|
|
2
|
Ruang Wakil Kepala Sekolah
|
√
|
|
√
|
|
3
|
Ruang Guru
|
√
|
|
√
|
|
4
|
Ruang Layanan Konseling
|
√
|
|
√
|
|
5
|
Ruang UKS
|
√
|
|
√
|
|
6
|
Perpustakaan
|
√
|
|
√
|
|
7
|
Ruang Tata Usaha
|
√
|
|
√
|
|
8
|
Ruang Penjaga Sekolah
|
√
|
|
√
|
|
9
|
Laboratorium Bahasa
|
√
|
|
√
|
|
10
|
Laboratorium Biologi
|
√
|
|
√
|
|
11
|
Laboratorium Fisika-Kimia
|
√
|
|
√
|
|
12
|
Masjid
|
√
|
|
√
|
|
13
|
Ruang Kelas
|
√
|
|
√
|
|
14
|
Kantin Sekolah
|
√
|
|
√
|
|
15
|
Ruang untuk masing-masing
Ekskul
|
√
|
|
√
|
|
2.
WC dan Kamar Mandi
Peruntukan
|
Keberadaan
|
Jumlah
|
Kondisi
|
Ada
|
Tidak
|
Baik
|
Tidak Baik
|
Kepala Sekolah
|
√
|
|
1
|
√
|
|
Guru / karyawan Perempuan
|
√
|
|
1
|
√
|
|
Guru/karyawan Laki-Laki
|
√
|
|
1
|
√
|
|
Siswa Laki-Laki
|
√
|
|
1
|
√
|
|
Siswa Perempuan
|
√
|
|
4
|
√
|
|
3.
Prasarana
Jenis
|
Keberadaan
|
Berfungsi
|
Ya
|
Tidak
|
Ya
|
Tidak
|
Instalasi Air
|
√
|
|
√
|
|
Jaringan Listrik
|
√
|
|
√
|
|
Jaringan telepon
|
√
|
|
√
|
|
Jaringan Internet
|
√
|
|
√
|
|
Akses Jalan
|
√
|
|
√
|
|
VI. ALAT BANTU AJAR
No
|
Alat
|
Jumlah
|
Tahun Pengadaan
|
Kondisi
|
Baik
|
Rusak
|
1
|
Kerangka Manusia
|
3
|
1998
|
√
|
|
2
|
Globe
|
3
|
2000
|
√
|
|
3
|
Microskop
|
10
|
2000
|
√
|
|
Kurikulum
MAN SIDOARJO
Tahun 2011-2012
|
DINAS
PENDIDIKAN KABUPATEN SIDOARJO
MAN
SIDOARJO
Alamat : Jl.
Stadion Jenggolo No.2
Sidoarjo
LEMBAR
PENGESAHAN
KURIKULUM
MAN
SIDOARJO KECAMATAN SEDATI KABUPATEN SIDOARJO
TAHUN
2011 - 2012
Ditetapkan di : Sidoarjo
Pada tanggal : 2 April 2012
Ketua
Komite Sekolah
Kepala sekolah
AGUS
GUNARDI DRS. KHUSNAN
Mengetahui
Kepala
Dinas Pendidikan
Kabupaten
Sidoarjo
Ir.AGOES
BOEDI TJAHYONO, MT
Pembina
Utama Muda
NIP:
19590804 198903 1 009
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini
meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah,
satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan
pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian
program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah yang kita kenal dengan
kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).
Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum acuan operasional yang disusun dan dilaksanakan di
masing – masing satuan pendidikan. Landasan dari pembuatan KTSP ini adalah
Undang – undang Republik Indonesia No.
20 TAHUN 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah RI
nomor 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan, Kepmendiknas nomor 23
tahun 2006 tentang standar Isi, Kepmendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang
Stnadar Kompetensi Kelulusan,dan pemberlakuan Undang-undang Republik Indonesia
nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah menuntut pelaksanaan otonomi
daerah dan wawasan demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengacu kepada Standar Isi , Standar Kopetensi
Kelulusan dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh
BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah.
Kurikulum Sekolah MAN
Sidoarjo Kecamatan Sidoarjo, disusun oleh tim penyusun yang terdiri dari kepala
sekolah, guru, konselor, serta komite sekolah, dan Pengawas MAN, Pengawas
Pendais di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo,sebagai pedoman
bagi guru dalam menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
agar dapat memberi kesempatan peserta didik belajar membangun dan menemukan
jati dirinya melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
A. Landasan
Pengembangan
Kurikulum MAN
Kecamatan Sidoarjo,
mengacu pada :
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pasal 36 ayat (2)”
Kurikulum pada semua jenjang dan jenis
pendidikan dengan prinsip diversifikasi sesuai satuan pendidikan, potensi
Daerah, dan peserta didik. Pasal 38 ayat
(2).” Kurikulum Pendidikan Dasar dan
Menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau
Satuan Pendidikan dan komite sekolah di bawah koordinasi dan supervisi Dinas
Pendidikan Kabupaten.
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan.
Pasal 17 ayat (1)” Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan SD/MI, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK, atau
bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan,
potensi Daerah/Krakteristik Daerah, sosial budaya masyarakat setempat, peserta
didik. Tin, (2); Pasal 18 ayat (1), (2), (3); Pasal 20.
3.Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional ( Permendiknas) nomor 6 tahun 2007
Tentang
perubahan Permendiknas nomor 24 tahun
2006 “ Satuan Pendidikan dasar dan
Menengah yang disusun olah Badan
Penelitian dan Pengembangan Departemen
Pendidikan Nasional bersama unit
terkait.
4. Standar Isi
Standar
isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi
lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Termasuk dalam Standar isi (SI) adalah : kerangka dasar dan struktur kurikulum,
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada
setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah. SI
ditetapkan dengan Permendiknas No. 22 Tahun 2006.
5. Standar Kompetensi Lulusan
SKL
merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan
keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan Permendiknas No. 23 Tahun 2006.
B. Tujuan Pengembangan KTSP
1. Menjadi acuan dan pedoman bagi sekolah ( Pendidik
dan Tenaga kependidikan) dalam rangka
penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran yang bermutu dan terukur ,
berkesinambunagn, dan dapat dipertanggung jawabkan.
2. Menjadi acuan dan pedoman bagi stakeholders(
pemangku kepentingan) dalam rangka ikut serta memberikan partisipasi maupun
pengendalian/control untuk terwujudnya satuan pendidikan yang sehat, bermutu,
dan memenuhi harapan masyarakat.
3. Mengakomodasikan semua potensi yang ada di sekolah
dan untuk meningkatkan kualitas satuan pendidikan, baik dalam bidang akademis,
maupun non akademis, memelihara budaya daerah, mengikuti perkembangan iptek
yang dilandasi iman dan taqwa.
4. Agar peserta didik :
·
Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
·
Menguasai dasar-dasar pengetahuan teknologi dan seni
·
Berinteraksi sosial baik dengan teman , guru, dan masyarakat setempat
maupun lingkungan sekitar
·
Mengaktualisasikan diri sesuai bakat, minat, dan potensi yang dimiliki
C.
Prisip-Prinsip Pengembangan KTSP
Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan
KTSP dikembangkan sesuai
dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite
sekolah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor
Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar.
Pengembangan kurikulum mengacu pada SI dan SKL dan bepedoman pada panduan
penyususnan kurikulum yang disusun oleh BNSP, serta memperhatikan pertimbangan
komite sekolah. KTSP
dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Berpusat pada potensi, perkembangan,
kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
Kurikulum
dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral
untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
2. Beragam dan terpadu
Kurikulum
dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik,
kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak
diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status
sosial ekonomi, dan jender.
3. Tanggap
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
Kurikulum
dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
yang berkembang secara dinamis.
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan
(stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk
di dalamnya kehidupan kemasyarakatan,
dunia usaha dan dunia kerja.
5. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup
keseluruhan dimensi kompetensi, bidang
kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara
berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
6. Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada
proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang
berlangsung sepanjang hayat.
7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kurikulum dikembangkan dengan
memperhatikan kepentingan nasional dan daerah untuk membangun kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
D. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum
Dalam pelaksanaan kurikulum di MAN Sidoarjo menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut.
a.
didasarkan pada
potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang
berguna bagi dirinya. Dengan layanan
pendidikan yang bermutu, serta memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
b.
menegakkan
kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar
untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup
bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan
menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif,
dan menyenangkan.
c.
Guru memberikan layanan kepada peserta didik untuk mendapat layanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau
percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik
dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang
berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.
d.
Pembelajaran dilaksanakan dalam suasana
hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab,
terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun
karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di
tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan
teladan).
e.
Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan
multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan
sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan
berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta
dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).
f.
Pembelajaran dilaksanakan dengan
mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk
keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
BAB II
TUJUAN
1.
Tujuan Pendidikan Dasar /Menengah
Tujuan Pendidikan Dasar /menengah adalah meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlaq mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Mengacu pada tujuan dasar pendidikan
tersebut, maka tujuan MAN Kecamatan Sidoarjo adalah sebagai berikut :
1.
Dapat mengamalkan ajaran agama hasil proses pembelajaran,kegiatan
pembiasaan yang berkarakter Bangsa
2.
Meraih prestasi akademik maupun non akademik
3.
Menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bekal
untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi
4.
Menjadi sekolah pelopor dan penggerak di lingkungan masyarakat sekitar
5.
Menjadi sekolah yang dipercaya masyarakat
2.
Visi Sekolah :
Perkembangan dan tantangan masa
depan seperti, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, globalisasi yang
sangat cepat, era reformasi dan berubahannya kesadaran masyarakat dan orang tua
terhadap pendidikan memicu sekolah untuk merespon tantangan sekaligus peluang. MAN Sidoarjo memiliki
citra moral yang menggambarkan profil sekolah yang diinginkan di masa datang
yang diwujudkan dalam visi sekolah sebagai berikut:
“Mewujudkan Keunggulan dalam Prestasi Berdasarkan Iman dan Taqwa”
3.
Misi Sekolah
Untuk mewujudkan visi, sekolah melakukan
langkah-langkah strategis yang dinyatakan dalam misi berikut :
1.
Melaksanakan Pembelajaran yang Aktif, Kreatif dan Efektif dan Inovatif
serta Menyenangkan ( PAKEM )
2.
Menumbuhkan Semangat Keunggulan Secara Intensif kepada Guru dan Siswa
Baik Seorang Akademik maupun Non Akademik
3.
Menumbuhkan Penghayatan Ajaran Agama yang Dianut dan juga Budaya Bangsa
sehingga menjadi Sumber Kearifan dalam Bertindak
4.
Menumbuhkan Semangat Peka dan Peduli Terhadap Lingkungan Sosial pada
Siswa Siswi sejak Dini
5.
Menerapkan Manajemen Partisipasi dengan Melibatkan Seluruh Warga
Sekolah dan Kelompok yang Terkait.
6.
Melengkapi Sarana – Prasarana Pendidikan secara Bertahap dan
Berkesinambungan
4.
Tujuan MAN Sidoarjo tahun pelajaran 2011/2012
Tujuan sekolah sebagai bagian dari tujuan
pendidikan nasional, adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian,
akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengukuti pendidikan
lebih lanjut.
Untuk mencapai standar mutu pendidikan yang dapat
dipertanggungjawabkan secara nasional, kegiatan pembelajaran di sekolah mengacu
pada peraturan menteri dan Standar kompetensi
kelulusan yang telah ditetapkan olah BSNP sebagai berikut :
1.
Standar Isi
1.1.
Mengembangkan standar kompetensi dasar dan indikator muatan kelas 1,2 dan 3
1.2.
Mengembangkan pemetaan standar kompetensi, kompetensi Dasar dan
indikator berbasis kecakapan hidup kelas 1,2 dan 3
1.3.
Memiliki standar kompetensi dan kompetensi dasar dan indikator muatan lokal
1.4.
Mengembangkan silabus dan perangkat pembelajaran kelas 1,2dan 3 untuk semua mata pelajaran
1.5.
Mengembangakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), kelas 1,2dan 3 semua mata pelajaran
1.6.
Memiliki bahan ajar untuk seluruh mata pelajaran
2.
Standar Proses
2.1.
Menguasai metode, strategi dan model pembelajaran yang bervariasi
melalui pendekatan PAKEM
2.2.
Mengembangkan model pembelajaran yang Kooperatif dan inovatif
2.3.
Mengembangkan bahan ajar berbasis kecakapan hidup
3.
Standar Kompetensi Kelulusan
3.1.
Rata-rata Ujian Nasional ...
3.2.
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)...... untuk semua mata pelajaran
3.3.
Gains score achiement (GSA) sebesar .....
3.4.
Juara..... tingkat ....
3.5.
Juara..... tingkat
3.6.
Semua siswa dari kelas 1 – kelas 3 yang beragama Islam mampu membaca Alqur’an dengan
benar
3.7.
Memiliki kepedulian sosial yang tinggi
3.8.
.....% lulusan diterima di sekolah favorit
4.
Standar Tenaga Pendidik dan Kependidikan
4.1.
Memiliki tenaga pendidik ....% S-1
4.2.
...% jumlah guru menguasai metode, strategi dan model pembelajaran yang
inovatif dan up to date
4.3.
Mengembangkan keterampilam komputer untuk tenaga pendidik
4.4.
Memilki tenaga pendidik dan kependidikan yang mampu mengoperasikan
Microsoft Office ( Word, Excel dan Power Poin)
4.5.
Kurang dari ....% tenaga pendidik dan kependidikan datang terlambat
4.6.
Memiliki tenaga pendidik dan kependidikan yang taat beribadah
4.7.
Memiliki tenaga pendidik dan kependidikan yang mempunyai kepekaan
sosial tinggi
4.8.
....................
4.9.
.........................
5.
Standar Sarana dan Prasarana
5.1.
Memiliki sarana dan prasarana yang sesuai Standar Pelayanan
Minimal(SPM)
5.2.
Mempunyai fasilitas pendidikan yang standar
5.3.
Menjalin kerja sama dengan lembaga lain dibidang jasa perawatan alat
pembelajaran
6.
Standar Pengelolan Pendidikan
6.1.
Memiliki sistem pengelolaan yang standar
6.2.
Mengembnagkan pengelolaan tertib keuangan
6.3.
Mengembangkan pengelolaan administrasi semua urusan( kurikulum,
kesiswaan, humas, dan sarana)
6.4.
Mengembangkan menejemen sekolah yang partisiatif , transparan dan akuntabel
7.
Standar Pembiayaan
7.1.
Memiliki aplikasi Menajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam pembiayaan
pendidikan
7.2.
Membebaskan ....% biaya pendidikan
8.
Standar Penilaian
8.1.
Semua guru mengembngkan sistem penilaian yang autentik ( authentic
Asseement)
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)
|
PERANGKAT PEMBELAJARAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Mata Pelajaran :
Ekonomi
Satuan Pendidikan : MAN
Kelas/Semester :
XI
Nama Guru :
Siti Utaminingsih, S. Pd
NIP : 195911031981122001
Sekolah :
MAN SIDOARJO
|
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah : SMA ….
Mata Pelajaran : Ekonomi
Kelas / Semester : XI (sebelas) /
1
Standar Kompetensi : 1. Memahami kondisi ketenagakerjaan dan dampaknya
terhadap pembangunan ekonomi.
Kompetensi Dasar :
1.1 Mengklasifikasi ketenagakerjaan
Indikator : 1. Menjelaskan pengertian jumlah penduduk,
tenaga kerja, angkatan kerja, dan kesempatan kerja.
2. Menjelaskan penyebab pengangguran.
3. Menjelaskan cara
mengatasi masalah pengangguran di Indonesia.
4. Menjelaskan cara meningkatkan kualitas tenaga kerja.
5. Menjelaskan sistem
pengupahan dan penggajian yang berlaku di Indonesia.
Alokasi Waktu :
8 x 45 menit
A. Tujuan Pembelajaran
a)
Siswa
dapat menjelaskan pengertian jumlah penduduk, tenaga
kerja, angkatan kerja, dan
kesempatan kerja.
b)
Siswa
dapat menjelaskan penyebab pengangguran.
c)
Siswa
dapat menjelaskan cara mengatasi masalah pengangguran di Indonesia.
d) Siswa dapat menjelaskan
cara meningkatkan
kualitas tenaga kerja.
e) Siswa dapat menjelaskan sistem pengupahan dan penggajian yang berlaku di Indonesia.
B. Materi Pokok
Ketenagakerjaan
C. Uraian Materi
a) Hubungan jumlah penduduk, tenaga kerja, angkatan kerja, dan kesempatan
kerja
b) Pengangguran
c) Cara-cara mengatasi pengangguran
d) Usaha peningkatan mutu tenaga kerja
e) Sistem upah yang berlaku di Indonesia
D. Pendekatan
Kontekstual
E. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok
F. Skenario Pembelajaran
1. Kegiatan Awal
a. Apersepsi
Guru
menggali dan mengembangkan pengetahuan siswa tentang ketenagakerjaan. Kemudian
guru mempersilahkan siswa memasuki ruang audio visual untuk melihat tayangan
yang berhubungan dengan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Selama kegiatan
tersebut, guru menghimbau siswa untuk mencatat hal-hal yang penting.
b. Motivasi
Masalah ketenagakerjaan adalah masalah
yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Masalah tersebut merupakan topik yang
senantiasa dibicarakan dalam kerangka pembangunan ekonomi nasional. Kelak, para
siswa akan menjadi bagian dari tenaga kerja Indonesia.
2. Kegiatan Inti
a. Siswa dikelompokkan menjadi lima kelompok,
di mana masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 orang (disesuaikan dengan
jumlah siswa).
b. Kelompok pertama diberi tugas untuk menjelaskan pengertian jumlah penduduk, tenaga kerja, angkatan kerja, dan kesempatan kerja.
c. Kelompok kedua diberi tugas untuk menjelaskan penyebab pengangguran.
d. Kelompok
ketiga diberi tugas untuk menjelaskan cara mengatasi masalah pengangguran di
Indonesia.
e. Kelompok keempat diberi tugas untuk menjelaskan cara meningkatkan kualitas tenaga kerja.
f. Kelompok kelima diberi tugas untuk menjelaskan sistem
pengupahan dan penggajian yang berlaku di Indonesia.
g. Masing-masing
kelompok mempersentasikan tugasnya di depan kelas, sedangkan kelompok yang lain
menanggapi.
h. Dengan
bimbingan guru, siswa membuat kesimpulan.
3. Kegiatan Akhir
a. Guru dan siswa melakukan refleksi
b. Penilaian
- Tes
lisan dengan beberapa pertanyaan (kognitif)
- Lembar
pengamatan (afektif)
- Lembar
pengamatan (psiko motorik)
c. Siswa
mengerjakan soal-soal evaluasi yang terdapat pada buku teks Ekonomi .
G. Sumber dan Alat
Buku teks, OHP, spidol
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah : SMA
….
Mata Pelajaran : Ekonomi
Kelas / Semester : XI (sebelas) /
1
Standar Kompetensi : 1. Memahami kondisi ketenagakerjaan dan dampaknya
terhadap pembangunan ekonomi
Kompetensi Dasar :
1.2 Mendeskripsikan tujuan pembangunan
ekonomi
Indikator : 1. Menjelaskan pengertian pembangunan
ekonomi.
2. Menilai kondisi perekonomian Indonesia dan menjelaskan tujuan pembangunan
ekonomi di Indonesia.
3. Mengidentifikasi permasalahan pembangunan
ekonomi di Indonesia.
4. Mengidentifikasi
keberhasilan dan kegagalan pembangunan ekonomi Indonesia.
Alokasi Waktu :
4 x 45 menit
A. Tujuan Pembelajaran
a)
Siswa
dapat menjelaskan pengertian pembangunan ekonomi.
b)
Siswa
dapat menilai kondisi perekonomian Indonesia dan menjelaskan tujuan pembangunan
ekonomi di Indonesia.
c)
Siswa
dapat mengidentifikasi permasalahan pembangunan ekonomi di Indonesia.
d)
Siswa
dapat mengidentifikasi keberhasilan dan kegagalan
pembangunan ekonomi Indonesia.
B. Materi Pokok
Pembangunan ekonomi
C. Uraian Materi
a) Pengertian pembangunan ekonomi
b) Pengertian dan tujuan pembangunan nasional
c) Pola dan tahapan pembangunan nasional
d) Keberhasilan dan kegagalan pembangunan ekonomi Indonesia
D. Pendekatan
Kontekstual
E. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok dan studi kepustakaan
F. Skenario Pembelajaran
1. Kegiatan Awal
a. Apersepsi
Guru
mengulas kembali pembahasan materi yang lalu tentang ketenagakerjaan. Kondisi
ketenagakerjaan sangat berkaitan dengan keberhasilan dan kegagalan pembangunan
ekonomi Indonesia. Kemudian guru mempersilahkan siswa memasuki ruang audio
visual untuk melihat tayangan yang berhubungan dengan pembangunan nasional.
Selama kegiatan tersebut, guru menghimbau siswa untuk mencatat hal-hal yang
penting.
b. Motivasi
Setiap negara secara berkesinambungan
melakukan pembangunan ekonomi untuk menciptakan kesejahteraan rakyatnya.
2. Kegiatan Inti
a. Siswa dikelompokkan menjadi empat kelompok,
di mana masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 orang (disesuaikan dengan
jumlah siswa).
b. Kelompok
pertama diberi tugas untuk menjelaskan pengertian
pembangunan ekonomi.
c. Kelompok kedua
diberi tugas untuk menilai kondisi perekonomian Indonesia dan menjelaskan
tujuan pembangunan ekonomi di Indonesia.
d. Kelompok
ketiga diberi tugas untuk mengidentifikasi permasalahan pembangunan ekonomi di
Indonesia.
e. Kelompok
keempat diberi tugas untuk mengidentifikasi keberhasilan
dan kegagalan pembangunan ekonomi Indonesia.
f. Masing-masing
kelompok mempersentasikan tugasnya di depan kelas, sedangkan kelompok yang lain
menanggapi.
g. Dengan
bimbingan guru, siswa membuat kesimpulan.
3. Kegiatan Akhir
a. Guru dan siswa melakukan refleksi
b. Penilaian
- Hasil
kerja kelompok (kognitif)
- Lembar
pengamatan (afektif)
- Lembar
pengamatan (psiko motorik)
c. Siswa
mengerjakan soal-soal evaluasi yang terdapat pada buku teks Ekonomi .
d. Siswa diberi tugas untuk mencari artikel koran dan majalah yang
berkaitan dengan pembangunan nasional.
G. Sumber dan Alat
Buku teks, OHP, spidol
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah : SMA
….
Mata Pelajaran : Ekonomi
Kelas / Semester : XI (sebelas) /
1
Standar Kompetensi : 1. Memahami kondisi ketenagakerjaan dan dampaknya
terhadap pembangunan ekonomi
Kompetensi Dasar : 1.3 Mendeskripsikan proses pertumbuhan ekonomi
Indikator :
1. Mendeskripsikan pertumbuhan ekonomi.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor
yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Alokasi Waktu :
4 x 45 menit
A. Tujuan Pembelajaran
a)
Siswa
dapat mendeskripsikan pertumbuhan ekonomi.
b)
Siswa
dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi
pertumbuhan ekonomi.
B. Materi Pokok
Pertumbuhan ekonomi
C. Uraian Materi
a)
Arti
pertumbuhan ekonomi
b) Teori pertumbuhan ekonomi
c) Faktor-faktor yang memengaruhi
pertumbuhan ekonomi
D. Pendekatan
Kontekstual
E. Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok dan studi kepustakaan
F. Skenario Pembelajaran
1. Kegiatan Awal
a. Apersepsi
Guru mengulas kembali pembahasan materi yang lalu
tentang pembangunan ekonomi. Kemudian guru mengaitkan dan menjelaskan perbedaan
antara pembangunan ekonomi tersebut dengan pertumbuhan ekonomi serta memberi
penjelasan yang singkat dan jelas tentang materi yang baru dan kompetensi yang
harus dikuasai.
b. Motivasi
Laju pertumbuhan ekonomi
merupakan indikator keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara.
2. Kegiatan Inti
a. Siswa dikelompokkan menjadi dua kelompok besar (disesuaikan dengan
jumlah siswa).
b. Kelompok pertama diberi tugas untuk mendeskripsikan pertumbuhan ekonomi.
c. Kelompok kedua diberi tugas untuk mengidentifikasi faktor-faktor
yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi.
d. Masing-masing kelompok mempersentasikan tugasnya di depan kelas,
sedangkan kelompok yang lain menanggapi.
e. Dengan bimbingan guru, siswa membuat kesimpulan.
3. Kegiatan Akhir
a. Guru dan siswa melakukan refleksi
b. Penilaian
- Tes
lisan dengan beberapa pertanyaan (kognitif)
- Lembar
pengamatan (afektif)
- Lembar
pengamatan (psiko motorik)
c. Siswa
mengerjakan soal-soal evaluasi yang terdapat pada buku teks Ekonomi .
G. Sumber dan Alat
Buku teks dan spidol.