Selasa, 08 Mei 2012

observasikuuuuuu


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Pengertian tersebut mengidentifikasikan kepada kita bahwa yang termasuk unsur-unsur komunikasi adalah komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek.
Komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung amat efektif, baik antara pengajar dengan pelajar maupun diantara para pelajar sendiri sebab mekanismenya memungkinkan si pelajar terbiasa mengemukakan pendapat secara argumentatif dan mengkaji dirinya, apakah yang telah diketahuinya itu benar atau tidak. Agar jalannya komunikasi berkualitas, maka diperlukan suatu pendekatan komunikasi yaitu; pendekatan secara ontologis (apa itu komunikasi), tetapi juga secara aksiologis (bagaimana berlangsungnya komunikasi yang efektif) dan secara epistemologis (untuk apa komunikasi itu dilaksanakan).
Hal – hal penting yang perlu diperhatikan saat proses informasi untuk komunikasi dalam pembelajaran, antara lain: (1) hal yang akan disampaikan sampai kepada penerima tanpa ada pembiasan isi (subject = outcome), (2) hal yang akan disampaikan setingkat dengan kemampuan siswa dalam menelaah (tingkat intelegensi siswa, pengalaman-pengalaman yang pernah didapat), (3) siswa terikat secara aktif dalam proses belajar dengan cara menghubungkan apa yang mereka dapat sebelumnya dengan hal baru yang akan disampaikan, (4) siswa diminta menunjukkan kemajuan sehingga pencapaiannya dapat dianalisis, umpan balik mendapat respon sehingga terlihat jelas sukses dalam usahanya, dan (5) siswa diberi waktu luang yang cukup untuk berlatih dengan kondisi beragam untuk meyakinkan proses retensi dan tranfer yang sedang terjadi.
Ditinjau dari prosesnya pendidikan adalah komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua komponen yang terdiri atas manusia, yakni pengajar sebagai komunikator dan pelajar sebagai komunikan.
Lazimnya pada tingkatan bawah dan menengah pengajar itu disebut guru, sedangkan pelajar disebut dengan murid; pada tingkatan tinggi pengajar dinamakan dengan dosen, sedangkan pelajar dinamakan dengan mahasiswa. Pada tingkatan apapun proses komunikasi antara pelajar dan pengajar itu pada hakekatnya sama saja. Perbedaannya hanyalah pada jenis pesan serta kualitas yang disampaikan oleh si pengajar kepada di pelajar.
Tujuan pendidikan adalah khas atau khusus, yaitu meningkatkan pengetahuan seseorang mengenai suatu hal sehingga ia menguasainya. Jelas perbedaannya dengan tujuan penerangan, propaganda, indoktrinasi dan agitasi sebagaimana disinggung di atas. Tujuan pendidikan akan tercapai jika prosesnya komunikatif. Pada umumnya pendidikan berlangsung secara berencana di dalam kelas secara tatap muka (face to face). Karena kelompoknya relatif kecil. Meskipun komunikasi antara pelajar dan pengajar dalam ruang kelas itu termasuk komunikasi kelompok, sang pelajar sewaktu-waktu bisa mengubahnya menjadi komunikasi antarpersona. Terjadilah komunikasi dua arah atau dialog di mana si pelajar menjadi komunikan dan komunikator, demikian pula sang pengajar. Terjadinya komunikasi dua arah ini ialah apabila para pelajar bersikap responsif, mengetengahkan pendapat atau mengajukan pertanyaan, diminta atau tidak diminta. Jika si pelajar pasif saja dalam arti kata hanya mendengarkan tanpa ada gairah untuk mengekspresikan suatu pernyataan atau pertanyaan, maka meskipun komunikasi itu bersifat tatap muka, tetap saja berlangsung satu arah dan komunikasi itu tidak efektif.
Berdasarkan berbagai latar belakang dan pernyataan diatas, komunikasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan efektifitas dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar antara seorang guru dengan siswanya. Karena itulah, kelompok kami memilih untuk membahas “ Penerapan Komunikasi yang Efektif dalam Kegiatan Pembelajaran “.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka muncul beberapa masalah yang dapat kami rumuskan sebagai berikut :
1.         Apa yang dimaksud dengan proses belajar mengajar sebagai proses komunikasi?
2.         Bagaiamana menerapkan komunikasi yang efektif untuk kelancaran proses pembelajaran ?
3.         Teori komunikasi apa saja yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran ?
4.         Bagaimana implementasi teori komunikasi dalam kegiatan belajar di sekolah ?




C.      Tujuan Pembahasan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dirumuskan diatas, maka beberapa tujuan yang ingin kami capai setelah observasi dan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.         Kita bisa memahami pengertian komunikasi dalam pembelajaran.
2.         Mampu menerapkan komunikasi yang efektif  unuk kelancaran proses pembelajaran.
3.         Kita mampu menjelaskan dan memahami teori-teori komunikasi  apa saja yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
4.         Mampu menerapak teori-teori tersebut dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
























BAB II
KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A.  Definisi Komunikasi
Ditinjau dari etimologi, komunikasi berasal dari kata communicare yang berarti “membuat sama”. Definisi kontemporer menyatakan bahwa komunikasi berarti “mengirim pesan”. Menurut (Effendy. 2003: 9) istilah komunikasi (communication) berasal dari kata latin communication, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna. Berbicara mengenai definisi komunikasi tidak ada definisi yang salah dan benar secara absolute.
Namun definisi kontemporer menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada kalimat “mendiskusikan makna”, ”mengirim pesan” dan ”penyampaian pesan lewat media”. Apapun istilah yang dipakai, secara umum komunikasi mengandung pengertian “memberikan informasi, pesan, atau gagasan pada orang lain dengan maksud agar orang lain tersebut memiliki kesamaan informasi, pesan atau gagasan dengan pengirim pesan.

B.  Konsep Komunikasi
Konsep komunikasi menurut John R. Wenburg, William W. Wilmoth dan Kenneth K Sereno dan Edward M Bodaken terbentuk menjadi 3 tipe: pertama, searah: pemahaman ini bermula dari pemahaman komunikasi yang berorientasi sumber yaitu semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respon penerima.
Kedua, interaksi: pandangan ini menganggap komunikasi sebagi proses sebab-akibat, aksi-reaksi yang arahannya bergantian. Ketiga, transaksi: konsep ini tidak hanya membatasi unsur sengaja atau tidak sengaja, adanya respon teramati atau tidak teramati namun juga seluruh transaksi perilaku saat berlangsungnya komunikasi yang lebih cenderung pada komunikasi berorientasi penerima. Saat dosen memberi kuliah, komunikasi bukan saja berdasarkan fakta bahwa mahasiswa menafsirkan isi kuliah tetapi juga dosen menafsirkan perilaku anggukan atau kerutan kening mahasiswa.
Jadi, kalau dua orang terlibat dalam komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan, maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan itu belum tentu menimbulkan kesamaan makna. Dengan lain perkataan, mengerti bahasanya saja belum tentu mengerti makna yang dibawakan oleh bahasa itu. Jelas bahwa percakapan antara kedua orang tadi dapat dikatakan komunikatif apabila kedua-duanya, selain mengerti bahasa yang dipergunakan juga mengerti makna dari bahan yang dipercakapkan.

C.  Unsur-unsur komunikasi
1.    Komuniakator (communicator)
Yaitu memberi berita, yang dalam hal ini adalah orang yang berbicara,pengirim berita atau orang yang memberitakan.
2.    Menyampaikan berita,
Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara mengatakan, mengirim atau menyiarkan.
3. Berita
Berita yang disampaikan (message), dapat dalam bentuk perintah, laporan, atau saran.
3.    Komunikan (communicate)
Yaitu orang yang dituju, pihak penjawab atau para pengunjung. Dengan kata lain orang yang menerima berita.
4.    Tanggapan atau reaksi (response), dalam bentuk jawaban atau reaksi. Kelima unsure komunikasi tersebut (Komuniakator, Menyampaikan berita, Berita-berita yang disampaikan, Komunikan dan Tanggapan atau reaksi) merupakan kesatuan yang utuh dan bulat, dalam arti apabila satu unsure tidak ada, maka komunikasi tidak akan terjadi.

D.  Bentuk-bentuk komunikasi
a)      Komunikasi verbal
Yaitu salah satu bentuk komunikasi yang lazim digunakan untuk menyampaikan pesan kepada pihak lain baik secara tertulis maupun pesan.
ü  Hasil Observasi:
Berdasarkan observasi dan pengamatan yang kami lakukan. Komunikasi verbal yang kami temukan adalah komunikasi yang dilakukan antara guru dan murid. Dimana komunikasi tersebut termasuk komunikasi secara tertulis. Karena seorang guru yang menyampaikan materi secara tertulis di papan tulis.

b)     Komunikasi non verbal
Komunikasi yang menggunakan bahasa tubuh seperti menggunkan gerakan tangan/tubuh sebagai isyarat suatu perbuatan yang mempunyai arti pesan dalam konteks komunikasi. Mengekspresikan pesan dalam komunikasi dalam bentuk gambar, menggunakan bahasa sikap yaitu bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan/ mengekspresikan pikiran, perasaan seperti bungkam, tak acuh.
ü  Hasil Observasi :
Berdasarkan pengamatan kami di kelas XII di MANSDA. Komunikasi verbal juga beberapa kali kami temui, diantaranya : ketika ada beberapa murid yang sedang ramai dan gaduh, guru tersebut kemudian diam dan memanggil nama murid yang bersangkutan sambil mengerutkan dahi. Yang berarti guru tersebut sedang marah.

E.  Jenis komunikasi :
a) Komunikasi individu
Komunikasi yang terjadi dalam diri individu yang berfungsi untuk mengembangkan kreativitas imajinasi, memahmai dan mengendalikan diri serta meningkatkan kematangan berpikir sebelum mengambil keputusan.
b)   Komunikasi interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan.
Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh komunikator.
Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek.
Aktivitas dari komunikasi intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah; berdo’a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif.
Pemahaman diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini.
Kesadaran pribadi (self awareness) memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu (Fisher 1987:134). Elemen dari kesadaran diri adalah konsep diri, proses menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita yang berbeda beda (multiple selves).

c)    Komunikasi kelompok
Menurut Anwar Arifin komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat.
Dari dua definisi di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok.
Menurut Dedy Mulyana kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Pada komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi, karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
Sehingga komunikasi kelompok adalah Interaksi tatap muka antara tiga orang atau lebih dengan tujuan yang telah diketahui seperti berbagai informasi, pemecahan masalah mana yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota lain secara tepat.
ü Hasil Observasi :
Berdasarkan hasil observasi kami komunikasi kelompok sangat banyak kami jumpai. Diantaranya ketika ada beberapa siswa yang sedang ngobrol bersama. Ini merupakan suatu proses komunikasi kelompok. Karena mereka terdiri dari lebih 1 orang dan dalam lingkup tertentu.

d)            Komunikasi massa
Merupakan tipe komunikasi manusia (human communication) adalah komunikasi umum, pesan yang disampaikan tidak ditujukan pada satu orang saja tapi juga bagi semua orang/ khalayak.
ü  Hasil Observasi :
Untuk kegiatan komunikasi masa ini, jenis komunikasi ini kami temukan ketika seorang guru sedang menjelaskan ataupun menyampaikan materi kepada siswanya. Dan hal ini dikatakan sebagai komunikasi masa karena pesan atau materi tidak hanya untuk sati siswa. Melainkan bagi seluruh siswa dalam kelas.

e)    Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi pada umumnya membahas tentang struktur dan fungsi organisasi, hubungan antarmanusia, komunikasi dan proses pengorganisasian serta budaya organisasi. Komunikasi organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergantung satu sama lain meliputi arus komunikasi vertikal dan horisontal.
ü  Hasil Observasi :
Menurut kami, komunikasi organisasi ini muncul dan ada ketika ada beberapa guru ataupun para staf yang berkumpul di dalam ruang guru. Kemudian mereka membahas bagaimana kemajuan siswa dalam belajar dan apa yang harus dilakukan untuk memajukan sekolah tersebut.

F.   Tujuan komunikasi:
a. Menemukan
Salah satu tujuan utama komunikasi menyangkut penenmuan diri  (personal discovery). Dengan berkomunikasi kita dapat memahami secara lebih baik diri kita sendiri dan diri orang lain yang kita ajak bicara. Tetapi komunikasi juga memungkinkan kita untuk menemukan dunia luar yang dipenuhi objek, peristiwa dan manusia lain.
b.  Untuk berhubungan
Kita menghabiskan banyak waktu dan energi komunikasi untuk membina dan memelihara hubungan sosial dengan orang lain.
c.  Untuk meyakinkan
Media massa ada sebaigan besar untuk meyakinkan kita agar mengubah sikap dan perilaku kita. Sedikit saja dari komunikasi pribadi kita yang tidak berupa untuk mengubah sikap atau perilaku.
d.  Untuk bermain
Kita menggunkan banyak perilaku komunikasi kota untuk bermain dan menghibur diri. Kita mendengarkan pelawak, pembicaraan, musik, film sebagian besar untuk hiburan. Demikian pula banyak dari perilaku yang dirancang untuk menghibur orang lain.

G. Prinsip komunikasi:
1)    Prinsip 1     : Komunikasi adalah suatu proses simbolik
2)    Prinsip 2     : Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi
3)    Prinsip 3     : Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan
4)    Prinsip 4     : Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat
                            kesengajaan
5)    Prinsip 5     : Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu
6)    Prinsip 6     : Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi
7)    Prinsip 7     : Komunikasi itu bersifat sistemik
8)    Prinsip 8     : Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin
                            efektiflah komunikasi
9)    Prinsip 9     : Komunikasi bersifat nonsekuensial
10)  Prinsip 10   : Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional
11)  Prinsip 11   : komunikasi bersifat irreversible
12)  Prinsip 12   : Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan
                            berbagai masalah
H.  Hambatan-hambatan dalam berkomunikasi
Pada sebuah proses komunikasi yang terjadi terkadang kita juga akan mengalami banyak hambatan dalam berkomunikasi. Beberapa Hambatan Komunikasi adalah :
a.         Hambatan sematik Komunikasi yg disebabkan oleh fakor bahasa yg digunakan oleh para pelaku komunikasi
b.        Hambatan mekanik Komunikasi yang disebabkan oleh factor elektrik, mesin atau media lainnya
c.    Hambatan antropologis Hambatan yg disebabkan oleh perbedaan pada diri manusia
d.    Hambatan psikologis Hambatan yg disebabkan oleh factor kejiwaan .

I.     Proses belajar mengajar sebagai proses komunikasi
Proses belajar mengajar dapat dikatakan proses komunikasi dimana terjadi proses penyampaian pesan tertentu dari sumber belajar (guru, instruktur, media pembelajaran dll) kepada penerima (peserta didik, murid) dengan tujuan agar pesan (berupa topik-topik pelajaran tertentu) dapat diterima (menjadi milik) oelh peserta didik/murid.
Guru hendaknya menyadari bahwa didalam kegiatan belajar dan pembelajaran, seungguhnya ia sedang melaksanakan kegiatan komunikasi. Untuk itu guru harus memilih dan menggunakan kata-kata yang berada dalam jangkauan/medan pengalaman murid-muridnya, agar dapat dimengerti dengan baik oleh mereka sehingga pesan pembelajaran yang disampaikan dapat diterima oleh murid dengan baik.
Kegiatan encoding dan decoding dalam proses pembelajaran. Encoding merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pemilihan  lambang-lambang yang akan digunakan dalam kegiatan komunikasi oleh komunikator (oleh guru dalam kegiatan pembelajaran). Sedangkan Decoding adalah kegiatan dalam komunikasi yang dilaksanakan oleh penerima pesan (audience, murid) dimana penerima berusaha menangkap makna pesan yang disampaikan melalui lambang-lambang oleh komunikator.
Agar penyampaian pesan pembelajaran mencapai “sharing” yang diinginkan maka dilakukan penyampaian dengan lebih konkret dan jelas, selain dengan memilih lambang verbal yang berada dalam medan pengalaman murid. Misalnya menggunkaan alat peraga dan media pembelajaran seperti chart, diagram, grafik, gambar diam dll.
Media pembelajaran dapat digunakan dalam 2 macam cara dalam proses belajar mengajar:
·           Sebagai alat peraga untuk menjelaskan materi pelajaran yang disampaikan keapda murid-murid.
·           Pemanfaatan media pembelajaran sebagai saluran komunikasi berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pesan pembelajaran terutama oleh media belajar mandiri seperti modul, Computer Based Instruction (CAI).

J.        Komunikasi yang efektif untuk kelancaran proses pembelajaran
Terkait dengan proses pembelajaran, komunikasi dikatakan efektif jika pesan yang dalam hal ini adalah materi pelajaran dapat diterima dan dipahami, serta menimbulkan umpan balik yang positif oleh siswa. Komunikasi efektif dalam pembelajaran harus didukung dengan keterampilan komunikasi antar pribadi yang harus dimiliki oleh seorang guru.
Komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang berlangsung secara informal antara dua orang individu. Komunikasi ini berlangsung dari hati ke hati, karena diantara keduabelah pihak terdapat hubungan saling mempercayai. Komunikasi antar pribadi akan berlangsung efektif apabila pihak yang berkomunikasi menguasai keterampilan komunikasi antar pribadi.
Dalam kegiatan belajar mengajar, komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan, agar terjadi hubungan yang harmonis antara pengajar dengan peserta belajar. Keefektifan komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar ini sangat tergantung dari kedua belah pihak. Akan tetapi karena pengajar yang memegang kendali kelas, maka tanggung jawab terjadinya komunikasi dalam kelas yang sehat dan efektif terletak pada tangan pengajar. Keberhasilan pengajar dalam mengemban tanggung jawab tersebut dipengaruhi oleh keterampilannya dalam melakukan komunikasi ini.
Komunikasi dalam bentuk diskusi dalam proses belajar mengajar berlangsung amat efektif, hal ini disebabkan oleh dua hal:
a.     materi yang didiskusikan meningkatkan intelektualitas,
b.    komunikasi dalam diskusi bersifat intracommunication dan intercommunication.
Yang dimaksud dengan intracommunication atau intrakomunikasi adalah komunikasi yang terjadi pada diri seseorang. Ia berkomunikasi dengan dirinya sendiri sebagai persiapan untuk melalukan intercommunication dengan orang lain.
Untuk menyamakan makna antara guru/dosen dan siswa ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian:
1.    Semua komponen dalam komunikasi pembelajaran diusahakan dalam kondisi ideal/baik:
a. pesan (message) harus jelas, sesuai dengan kurikulum, terstruktur secara jelas, menarik dan sesuai dengan tingkat intelejensi siswa.
b. Sumber/guru harus berkompetensi terhadap materi ajar, media yang digunakan, mampu menyandikan dengan jelas, mampu menyampaikan tanpa pembiasan dan menarik perhatian serta mampu membangkitkan motivasi diri dan siswa dalam proses interaksi dan transaksi komunikasi.
c.  penerima/siswa harus dalam kondisi yang baik/sehat untuk tercapainya prasyarat pembelajaran yang baik.
d. lingkungan (setting) mampu mendukung penuh proses komunikasi misalnya pencahayaan, kenyamanan ruang dan sebagainya.
e. materi/media software dalam kondisi baik/tidak rusak (sesuai dengan isi/pesan).
f. alat (device) tidak rusak sehingga tidak membiaskan arti (audiovisual). Media yang menarik (dapat dilihat dan didengar) akan memudahkan siswa dalam retensi dan pengingatan kembali pesan yang pernah didapat.
g. teknik/prosedur penggunaan semua komponen pembelajaran harus memiliki instruksi jelas dan terprogram dalam pengelolaan.
2.    Proses encoding dan decoding tidak mengalami pembiasan arti/makna.
3. Penganalogian harus dilakukan untuk membantu membangkitkan pengertian baru dengan pengertian lama yang pernah mereka dapat.
4.    Meminimalisasi tingkat gangguan (barrier/noise) dalam proses komunikasi mulai dari proses penyandian sumber (semantical), proses penyimbolan dalam software dan hardware (mechanical) dan proses penafsiran penerima (psychological).
5.    Feedback dan respons harus ditingkatkan intensitasnya untuk mengukur efektifitas dan efisiensi ketercapaian.
6.    Pengulangan (repetition) harus dilakukan secara kontinyu maupun progresif.
7.    Evaluasi proses dan hasil harus dilakukan untuk melihat kekurangan dan perbaikan.
8.    Aspek pendukung dalam komunikasi; fisik, psikologi, sosial dan waktu harus dibentuk dan diselaraskan dengan kondisi komunikasi yang sedang berlangsung agar tidak menghambat proses komunikasi pembelajaran.



Gambar 10.1 Seorang Guru yang Berusaha Berkomunikasi Efektif
Untuk Kelancaran Pembelajaran

K.      Teori komunikasi yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran
Beberapa teori komunikasi yang bisa diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar adalah :
1.         Teori Humanisme
Kurikulum ini menekankan pada pembagian pengawasan dan tanggungjawab bersama antar seluruh siswa didik. Humanistic curiculum menekankan pada pola pikir, perasaan dan tingkah laku siswa dengan menghubungkan materi yang diajarkan pada kebutuhan dasar dan kebutuhan hidup siswa. Teori ini menganggap bahwa setiap siswa sebagai objek pembelajaran memiliki alasan yang berbeda dalam mempelajari bahasa. Tujuan utama dari teori ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa berkembang di tengah masyarakat. The deepest goal or purpose is to develop the whole persons within a human society. (McNeil,1977)

2.         Teori Konstruktvisme
Jean Piaget dan Leu Vygotski adalah dua nama yang selalu diasosiasikan dengan kontruktivisme. Ahli kontruktivisme menyatakan bahwa manusia membentuk versi mereka sendiri terhadap kenyataan, mereka menggandakan beragam cara untuk mengetahui dan menggambarkan sesuatu untuk mempelajari pemerolehan bahasa pertama dan kedua.

3.         Teori Sibernetika
Istilah sibernetika berasal dari bahasa Yunani (Cybernetics berarti pilot). Istilah Cybernetics yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi sibernetika, pertama kali digunakan tahun 1945 oleh Nobert Wiener dalam bukunya yang berjudul Cybernetics. Sibernetika adalah teori sistem pengontrol yang didasarkan pada komunikasi (penyampaian informasi) antara sistem dan lingkungan dan antar sistem, pengontrol (feedback) dari sistem berfungsi dengan memperhatikan lingkungan. Seiring perkembangan teknologi informasi yang diluncurkan oleh para ilmuwan dari Amerika sejak tahun 1966, penggunaan komputer sebagai media untuk menyampaikan informasi berkembang pesat.

4.         Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)
Menurut teori conditioning (Ivan Petrovich Pavlo:1849-1936), belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (response). Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan-latihan yang kontinu. Yang diutamakan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.

5.         Teori Operant Conditioning (Skinner)
Skinner (1904-1990), menganggap reward dan rierforcement merupakan factor penting dalan belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal mengontrol tingkah laku. Pda teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. . Operans conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operans yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan.



6.         Teori Conectionism (Thorndike)
Menurut teori trial and error (mencoba-coba dan gagal) ini, setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi baru akan melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya coba-coba secara membabi buta jika dalam usaha mencoba-coba itu secara kebetulan ada perbuatan yang dianggap memenuhi tuntutan situasi, maka perbuatan yang kebetulan cocok itu kemudian “dipegangnya”. Karena latihan yang terus menerus maka waktu yang dipergunakan antuk melakukan perbuatan yang cocok itu makin lama makin efisien.

7.         Teori Systematic Behavior (Hull)
Clark C Hull mengikuti jejak Thorndike dalam usahanya mengembangkan teori belajar. Prinsip-prinsip yang digunakanya mirip dengan apa yang dikemukakan oleh para behavioris yaitu dasar stimulus-respon dan adanya reinforcement. Clark C. Hull mengemukakan teorinya, yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong” (oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, ambisi) harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu.
Dalam hal ini efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar itu oleh respon-respon yang dibuat individu itu.
Setiap obyek, kejadian atau situasi dapat mempunyai nilai sebagai penguat apabila hal itu dihubungkan dengan penurunan terhadap suatu keadaan deprivasi (kekurangan) pada diri individu itu; yaitu jika obyek, kejadian atau situasi tadi dapat menjawab suatu kebutuhan pada saat individu itu melakukan respon.

L.     Implementasi teori komunikasi dalam kegiatan belajar di sekolah
1.         Teori Humanistic
Belajar adalah menekankan pentingnya isi dari proses belajar yang tujuannya adalah memanusiakan manusia atau mencapai aktualisasi diri. Aplikasi teori humanisme dalam pembelajaran guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
Hal ini dapat diterapkan melalui kegiatan diskusi, membahas materi secara berkelompok sehingga siswa dapat mengemukakan pendapatnya masing-masing di depan kelas. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang mengerti terhadap materi yang diajarkan.
Pembelajaran berdasarkan teori humanisme ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Orientasi yang mendukung saat ini adalah lingkungan harus tidak mengancam baik secara psikologis, emosional dan fisikal. Sementara banyak pengajar akan setuju bahwa ini adalah hal yang penting, mereka juga akan mengusung sebuah kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan murid untuk berhadapan dengan pengharapan eksternal.

Contoh Kasus :
1.                  Kasus 1
Dalam observasi yang kita lakukan di MANSDA, teori humanistic ini diterapkan oleh beberapa guru. Hal ini dibuktikan dengan observasi pertama yang kita lakukan di kelas XII MANSDA.
guru tersebut memacu murid untuk meningkatkan semangat dengan memberikan contoh materi berdasarkan lingkungan yang mereka lihat. Dan kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang mengerti.

Gambar 12. 1 Menunjukkan seorang Murid yang  Aktif



2.                  Kasus 2
Dalam kelas yang kami amati guru yang mengajar sangat aktif dan selalu memantau seluruh muridnya mulai dari yang paling depan sampai paling belakang. Dan selalu berusaha mendekati muridnya.


2.      Teori Konstruktvisme
Pembelajaran harus dibangun secara aktif oleh pembelajar itu sendiri dari pada dijelaskan secara rinci oleh orang lain. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh didapatkan dari pengalaman.
Namun demikian, dalam membangun pengalaman siswa harus memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pikirannya, menguji ide-ide tersebut melalui eksperimen dan percakapan atau tanya jawab, serta untuk mengamati dan membandingkan fenomena yang sedang diujikan dengan aspek lain dalam kehidupan mereka.
Selain itu juga guru memainkan peranan penting dalam mendorong siswa untuk memperhatikan seluruh proses pembelajaran serta menawarkan berbagai cara eksplorasi dan pendekatan.
      Contoh kasus :
Masih dalam kelas yang sama, hal ini juga kami temui. Dimana di kelas ini ada pembelajaran siswa secara aktif ada beberapa siswa yang aktif menjawab, dan gurunya juga sangat aktif memotivasi muridnya.Guru tersebut berusaha mencari informasi apa yang dimiliki siswa-siswanya.
3.      Teori Sibernetik
Teknologi ini juga dimanfaatkan dunia pendidikan terutama guru untuk berkomunikasi sesama relasi, mencari handout (buku materi ajar), menerangkan materi pelajaran atau pelatihan, bahkan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa. Prinsip dasar teori sibernetik yaitu menghargai adanya 'perbedaan', bahwa suatu hal akan memiliki perbedaan dengan yang lainnya, atau bahwa sesuatu akan berubah seiring perkembangan waktu. Pembelajaran digambarkan sebagai : INPUT => PROSES => OUTPUT.

Contoh kasus :
Dalam observasi yang kami lakukan, teori ini kami jumpai.Dalam kelas ini, kami melihat seorang guru yang dengan sabar menyamakan pendapat dari beberapa siswa yang saling berargument. Disini seorang guru menghargai adanya perbedaan dari beberapa muridnya. Tapi, pada akhirnya tetap menghasilkan output yang sama.
4.      Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)
Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia. juga tidak lain adalah hasil daripada conditioning. Yakni hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat/perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam kehidupannya.
Kelemahan dari teori conditioning ini ialah, teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis; keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya.
Peranan latihan/kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan kita tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu, manusia tidak semata-mata tergantung kepada pengaruh dari luar. Aku atau pribadinya sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentukan perbuatan dan reaksi apa yang akan dilakukannya.
Teori conditioning ini memang tepat kalau kita hubungkan dengan kehidupan binatang. Pada manusia teori ini hanya dapat kita terima dalam hal-hal belajar tertentu saja umpamanya dalam belajar yang mengenai skills (kecakapan-kecakapan) tertentu dan mengenai pembiasaan pada anak-anak kecil.

Contoh Kasus :
Penerapan teori ini juga kami temukan pada pembelajaran yang dilakukan pada kelas. Dimana guru tersebut memberikan latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuan siswanya yang merupakan siswa-siswa pilihan. Jadi, dengan adanya latihan-latihan tersebut seorang guru berharap siswanya akan lebih mudah dan terampil dalam menjawab soal

       










Gambar 12.4 menunjukkan siswa yang sedang mengoreksi
Soal bersama

5.      Teori Operant Conditioning (Skinner)
Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli. Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan.
Prinsip belajar Skinners adalah :
·      Hasil belajar harus segera diberitahukan pada siswa jika salah dibetulkan jika benar diberi penguat.
·      Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan sebagai sistem modul.
·      Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri, tidak digunakan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah untuk menghindari hukuman.
·      Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable ratio reinforcer.
·      Dalam pembelajaran digunakan shapping.

      Contoh Kasus :
1.                  Kasus 1
Dalam teori ini seorang guru harus memberikan stimulus yang menarik siswa. Untuk bisa mendapatkan respon yang baik juga. Sehingga, pada kelas yang kami temui, seorang guru memberikan stimulus pujian. Dan hanya diberikan pada siswa yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Dengan begitu, para siswa akan lebih antusias dan bersemangat dalam menjawab peertanyaan-pertanyaan yang diberikan.





2.                  Kasus 2
Dalam kelas ini, selama kami melakukanpengamatan. Guru tersebut juga memberikan stimulus dengan menepuk bahu siswanya yang berhasil menjawab,guru tersebut juga selalu tersenyum pada siswa-siwanya. Sehingga kegiatan belajar terasa menyenangkan dan membuat siswa merasa nyaman.

6.         Teori Conectionism (Thorndike)
Jadi, proses belajar menurut Thorndike melalui proses:
1 ) trial and error (mencoba-coba dan mengalami kegagalan), dan
2) law of effect; Yang berarti bahwa segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baiknya. Sedangkan segala tingkah laku yang berakibat tidak menyenangkanakan dihilangkan atau dilupakannya. Tingkah laku ini terjadi secara otomatis.
Otomatisme dalam belajar itu dapat dilatih dengan syarat-syarat tertentu, pada binatang juga pada manusia.Thorndike melihat bahwa organisme itu (juga manusia) sebagai mekanismus; hanya bergerak atau bertindak jika ada perangsang yang mempengaruhi dirinya.
Terjadinya otomatisme dalam belajar menurut Thorndike disebabkan adanya law of effect itu. Dalam kehidupan sehari-hari law of effect itu dapat terlihat dalam hal memberi penghargaan atau ganjaran dan juga dalam hal memberi hukuman dalam pendidikan.
Akan tetapi menurut Thorndike yang lebih memegang peranan dalam pendidikan ialah hal memberi penghargaan atau ganjaran dan itulah yang lebih dianjurkan. Karena adanya law of effect terjadilah hubungan (connection) atau asosiasi antara tingkah laku reaksi yang dapat mendatangkan sesuatu dengan hasil biaya (effect). Karena adanya koneksi antara reaksi dengan hasilnya itu maka teori Thorndike disebut juga Connectionism.

Contoh Kasus :
Dalam teori ini. Penerapannya masih kami jumpai pada kelas yang sama dimana seorang guru kelas XII. Guru tersebut terus memacu siswa-siswanya dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. Meskipun jawaban tersebut salah.
Jadi, pada kelas ini guru tersebut menggunakan teori trial and error. Jadi, terus mencoba menjawab, sampai jawaban yang disampaikan siswa  tersebut benar.


7.    Teori Systematic Behavior (Hull)
Prinsip penguat (reinforcer) menggunakan seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari dorongan biologis yang merupakan kebutuhan utama seseorang sampai pada hasil-hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang.
Jadi, prinsip yang utama adalah suatu kebutuhan atau motif harus ada pada seseorang sebelum belajar itu terjadi; dan bahwa apa yang dipelajari itu harus diamati oleh orang yang belajar sebagai sesuatu yang dapat mengurangi kekuatan kebutuhannya atau memuaskan kebutuhannya.

Contoh Kasus :
1.      Dalam observasi yang kami lakukan, belum ada kelas yang menerapkan teori ini. Dimana pada teori ini seorang guru menyampaikan tujuan ataupun manfaat apabila mempelajari mata pelajaran tersebut. Sehingga belum ada motivasi yang dilakukan seorang guru sebelum memulai aktivitas belajar mengajar.
2.      Selain itu, dalam pengajaran ditemukan kasus guru yang memotivasi siswanya dengan cara memberikan pujian kepada siswa yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar maka guru tersebut mengucapkan kalimat “YA JAWABANNYA BENAR BOLEH PULANG” sebagai motivasi kepada siswa agar siswa memberikan yang baik yaitu dengan lebih giat belajar agar bisa menjawab pertanyaan dengan benar.












BAB III
PENUTUP

A.      Simpulan
1.    Proses belajar mengajar dapat dikatakan proses komunikasi dimana terjadi proses penyampaian pesan tertentu dari sumber belajar (guru, instruktur, media pembelajaran dll) kepada penerima (peserta didik, murid) dengan tujuan agar pesan (berupa topik-topik pelajaran tertentu) dapat diterima (menjadi milik) oleh peserta didik/murid.

2.    Komunikasi dikatakan efektif dalam hal ini adalah pesan yang berupa materi pelajaran dapat diterima dan dipahami, serta dapat menghasilkan feedback/ respon yang positif oleh siswa. Komunikasi efektif dalam pembelajaran harus didukung dengan keterampilan berkomunikasi yang baik dari seorang guru sehinnga antara guru dengan siswa tidak terjadi salah mengerti dan menginterpretasikan suatu informasi/ pesan yang berupa materi pelajaran.
3.    Teori-teori komunikasi yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran adalah :
a.    Teori Humanistic
b.    Teori Konstruktvisme
c.    Teori Sibernetik
d.   Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)
e.    Teori Operant Conditioning (Skinner)
f.     Teori Conectionism (Thorndike)
g.    Teori Systematic Behavior (Hull)

4.    Efektifitas sebuah proses komunikasi tergantung pada komponen yang terkait. Semakin baik komponen, gangguan-gangguan dalam komunikasi akan terhindari. Feedback atau respon akan lebih mudah dimengerti oleh penerima pesan/ siswa. Proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan satu bentuk komunikasi yang terjalin antara komunikator dalam hal ini adalah seorang pengajar yang menyalurkan pesan berupa materi pengajaran kepada komunikan yaitu pelajar melalui media lisan atau dengan menggunakan bantuan teknologi komunikasi lain, sebagai akibatnya pelajar akan mengetahui materi yang disampaikan dan memanfaatkan pesan yang telah diterima oleh pelajar tersebut,  dan inilah tujuan utama dari proses belajar mengajar. Kemampuan/keterampilan guru dalam melakukan kegiatan komunikasi akan mempengaruhi proses yang akhirnya berujung pada hasil. Siswa yang cerdas adalah siswa yang lebih mampu lebih dahulu memahami apa yang disampaikan oleh seorang guru, kemudian siswa tersebut akan memberitahukan kepada siswa lain yang sekiranya kurang mampu menangkap pesan dengan cepat.

B.       Saran 
Berdasarkan latar belakang masalah yang muncul, sampai pada pembahasan beberapa rumusan masalah diatas. Maka diharapkan :
1.   Seorang guru lebih memperhatikan kondisi dan situasi kelas sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.
2.   Sebaiknya seorang guru lebih memahami metode pembelajaran seperti apa yang sesuai dengan keadaan kelas dan siswanya.
3.   Selain dari segi tenaga pendidik, siswa seharusnya juga bisa lebih memperhatikan para guru mereka.
4.   Sebaiknya seorang guru harus bisa lebih menggunakan gaya bahasa yang sekiranya mudah untuk dipahami oleh siswanya.
















LAMPIRAN

RANGKUMAN KEGIATAN OBSERVASI DI SD PABEAN 2

1.    KEGIATAN PERTAMA
Dalam observasi ini ada beberapa kegiatan pengamatan yang kami lakukan. Mulai dari pengamatan dalam kelas sampai pengamatan di luar kelas. Untuk kegiatan pertama, pengamatan kami lakukan di dalam kelas, yaitu, di kelas XI.
Di kelas ini kami mengamati beberapa hal, ketika proses pembelajaran. Diantaranya bagaimana proses komunikasi yang terjadi antara guru dengan siswa, bagaimana keadaan kelasya, aktif ataupun pasif. Kemudian bagaimana suasana di kelas, bagaimana hubungan antara sesama siswa dalam kelas tersebut. Dan kami juga mengamati metode dan media yang digunakan oleh guru ketika di dalam kelas.
Selain itu, di sela-sela pengamatan ini, kami juga mengamati beberapa siswa yang dengan asik bermain sendiri dengan siswa lainnya ketika proses belajar mengajar berlangsung.

2.    KEGIATAN KEDUA
Setelah melakukan pengamatan di dalam kelas, pengamatan selanjutnya kami lakukan di luar kelas. Tepatnya di luar kegiatan belajar mengajar. Kemudian kami mencoba mangajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa siswa yang sedang istirahat setelah selesai melakukan kegiatan olah raga.
Ada beberapa pertanyaan yang kami ajukan kepada mereka. Diantaranya pertanyaan seputar bagaimana perasaan mereka bersekolah di tempat tersebut, bagaimana guru-guru mereka mengajar, apakah mereka bisa menerima atau tidak. Apakah komunikasi antara siswa dan guru mereka terjalin dengan baik atau tidak, dan bagaimana respon mereka. Bagaimanakah fasilitas yang ada disekolah yang menunjang kenyamanan dalam proses belajar mengajar. Serta kami juga mengajukan pertanyaan seputar kegiatan komunikasi yang tidak termasuk dalam proses belajar mengajar (non akademik).

3.    KEGIATAN KETIGA
Selanjutnya kami mencoba melakukan pengamatan di kantin sekolah tersebut. Sebelum kami mengajukan beberapa pertanyaan, kami menemukan sesuatu yang beda dari kantin tersebut. Kami melihat kantin tersebut dijaga oleh beberapa siswa dan mereka juga ikut melayani teman-teman mereka
Kemudian kami bertanya pada pengelola kantin. Ternyata, hal ini memang sudah dibiasakan kepada para siswa untuk melatih kejujuran dan kecakapan dalam berkomunikasi. Dan kegiatan terakhir yang kami lakukan adalah melakukan tanya jawab dengan beberapa guru di ruang guru mengenai sistem pembelajaran dan kegiatan-kegiatan lainnya, hingga kemudian berpamitan. 


























HASIL DARI KEGIATAN WAWANCARA
WAWANCARA 1
·      Wawancara pertama dilakukan di dalam kelas XI IPS 2. Setelah mata pelajaran Akuntansi yang diisi dengan presentasi beberapa siswa berakhir, kami diberi kesempatan untuk menyapa siswa di kelas ini. Untuk wawancara kali ini, kami menyapa mereka secara global. Dan inilah hasil wawancara kami dengan sebagian siswa kelas XI IPS 2 MAN Sidoarjo.

·      Berikut adalah hasil wawancara kami dengan mereka :
Silmy          : assalamualaikum adik – adik?
Siswa          : waalaikumsalam kak!
Silmy          : apa kabar adik – adik?
Siswa          : alhamdulillah kak, baik.
Silmy          :kenalin, ini kakak – kakak dari Universitas Negeri Surabaya, kita akan observasi di sekolahnya adik – adik.. makasih ya, kakak – kakaknya uda diizini untuk masuk kelasnya adik – adik,,,
Siswa          : iya kak, sama – sama,,,
Silmy          : oya, bagaimana nih rasanya setelah presentasi akuntansi?? Pusing gak nih???
Siswa          : iya kak, pusing banget... meskipun akuntansi itu mata pelajaran anak ips,,, tapi pusing banget kak,,,,
Silmy          : lho, kenapa adik – adik pusing dengan mata pelajaran akuntansi? Apa gurunya yg kurang enak? Atau adik – adiknya yang malas belajar nih???
Siswa          : ibu gurunya sih enak kak, malah itu jadi salah satu guru favorit kita, tapi... kitanya aja yang malas untuk perhitungan akuntansi, apalagi kalau sudah capek ngitung, eh ternyata salah.
Silmy          : oke deh adik – adik,, kalian yang semangat ya,, biar bisa menggapai cita – citanya....
Oya, ngomong – ngomong masalah konumikasi, menurut adik – adik gimana sih komunikasi di kelas ini???
Siswa          : komunikasi di kelas ini bagus banget kak,,, sampai – sampai sering tengkar. hahahaha (Semua siswa laki – laki tertawa)
Silmy          : lho,,,, kok sering tengkar? Kenapa itu???
Siswa          : sebenarnya sih gak tengkar kak, tapi Cuma bercanda aja,,, anak – anak cowok itu seneng godain anak cewek, habisnya centil – centil sih kak,,,,
Silmy          : ow gitu ceritanya, berarti tengkarnya gak beneran kan???
                   Ya udah kalau gitu, yang penting kalian akrab satu sama lain, agar komunikasinya bisa berjalan dengan baik ya adik – adik,,,,
                   Terimakasih waktunya adik – adik,,
Siswa          : Iya kak sama – sama, kapan – kapan main kesini lagi ya kak...
Silmy          : Insyaallah ya adik –adik kalau ada kesempatan, ya uda adik – adik selamat belajar, assalamualakum.
Siswa          : iya kak, terimakasih. Waalaikumsalam.


WAWANCARA 2

·      Wawancara kami yang kedua ini, kami tujukan kepada beberapa murid yang kebetulan sedang beristirahat setelah mengikuti Mata Pelajaran Olah Raga. Mereka adalah para murid Kelas XI IPS 2 MAN Sidoarjo. Wawancara kami kali ini mengenai bagaimana komunikasi antara seorang guru dan mereka.
·      Berikut adalah hasil tanya jawab kami dengan beberapa murid :
Anggun      : selamat pagi adik-adik ?
Siswa          : selamat pagi kak.
Enny           : ini masih olah raga? Apa sudah selesai, atau sedang istirahat dek?
Siswa          : masih istirahat kak.
Anggun      :berarti kakak boleh tanya-tanya sebentar ya dek tentang bagaimana sih komunikasi antara guru dan murid disini?
Siswa          : ya kak, nggak apa-apa kok kak.
Enny           : kalau menurut adik, komunikasi antara guru dan siswa di MAN ini sudah efektifkah?
Siswa          : kalau dibilang efektif ya tidak kak, atau mungkin belum. Soalnya tidak semua siswa disini kenal dengan semua guru, bahkan kadang banyak yang belum tau nama guru....
Anggun      : ow gitu ya, berarti kalau bertemu di luar kelas atau di luar sekolah tidak bisa menyapa donk dik????
Siswa          : ya kadang nyapa kak, tapi kalau gak tau namanya ya senyum aja.
Enny           : oke, tidak apa – apa dik, yang penting uda nyapa, agar tali sillaturrahimnya tetap terjaga ya... Oya, kalau sama kepala sekolahnya gimana?
Siswa          :kalau Kepala Sekolahnya ramah kak, meskipun jarang mengajar kita dan mungkin tidak kenal huga dengan kita, tapi beliau selalu senyum dan nyapa kak.
Anggun      : Ow begitu, berarti beliau figur yang baik dan patut dicontoh ya adik – adik?
Siswa          : Iya kak.... patut banget dicontoh.
Enny           : oke deh kalau gitu, makasih ya adik – adik atas waktunya.. Met istirahat...
Siswa          : iya kak sama – sama, makasih kak.


WAWANCARA 3

·      Wawancara kami yang ketiga ini, dengan salah satu guru yang ada di MAN Sidoarjo ini mengenai fasilitas – fasilitas yang mendukung berjalannya komunikasi di sekolah ini.
·      Berikut adalah hasil wawancara kami dengan beliau :
Husnia        : selamat pagi ibu, maaf mengganggu waktunya. Bisa
  kami bertanya - tanya sebentar ibu?
Ibu Guru     : ya mbak, tidak apa-apa. Silahkan !!!
Mahdum     :maaf sebelumnya ibu. Kami mau bertanya tentang fasilitas yang ada di sekolah ini, apa menurut ibu sudah lengkap untuk menunjang komunikasi siswa atau guru?
Ibu Guru     : kalau menurut saya, dibilang lengkap ya kurang pantas mbak, karena banyak fasilitas yang belum ada disini.
Husnia        : apa saja contohnya fasilitas yang belum ada itu bu?
Ibu Guru     : contohnya laboratorium bahasa dan ips, Wi-Fi juga tidak selalu connact, jadi ya itu merugikan siswa dan guru, menurut saya.
Mahdum     :Baiklah ibu, terimakasih atas waktu ibu untuk membantu berjalannya observasi kami. Semoga saja fasilitas untuk menunjang komunikasi disini segera terlengkapi bu.
Ibu Guru     : Iya mbak, sama – sama mbak.

DOKUMENTASI PADA SAAT OBSERVASI DI MAN SIDOARJO
Foto pada saat datang dan bertemu Kepala Sekolah
Foto keadaan kelas XI IPS 2 saat mengikuti pelajaran
Foto pada saat wawancara dengan salah satu siswi di kelas XI IPS 2
Foto dengan siswa – siswi dan Ibu Guru kelas XI IPS 2
Foto setelah menempel Mading di kelas XI IPS 2

PROFIL SEKOLAH










I.     SEKOLAH
1)      Nama Sekolah             : MADRASAH ALIYAH NEGERI SIDOARJO
2)      Status                          : Negeri
3)      Alamat Sekolah           : Jalan Stadion Jenggolo No 2 Sidoarjo
4)      Kecamatan                  : Sidoarjo
5)      Kabupaten/Kota          : Sidoarjo
6)      Provinsi                       : Jawa Timur
7)      Jumlah Kelas               : 36
8)       
II.    KEPALA SEKOLAH
        1.   Nama                                           : Drs. Kusnan
        2.   NIP                                             : 195605181985031003
        3.   Jenis Kelamin                              : Laki-Laki
        4.   Pendidikan Terakhir                    : S1





III. VISI DAN MISI SEKOLAH
A.    VISI
Mewujudkan siswa yang berprestasi dan berakhlak mulia
B.     MISI
1)      Meningkatkan keimanan, ketaqwaan kepada ALLAH SWT dan berakhlaq mulia serta menumbuhkan semangat menuntut ilmu keagamaan Islam dan mengamalkannya.
2)      Melaksanakan bimbingan dan pembelajaran secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan serta pembelajarann bertaraf internasional, sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki.
3)      Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif dan daya saing yang sehat kepada seluruh warga madrasah baik dalam prestasi akademik maupun non akademik.
4)      Membantu, memotivasi, dan memfasilitasi siswa untuk mengembangkan kemampuan, bakat dan minatnya, sehingga dapat dikembangkan secara lebih optimal dan memiliki daya saing yang tinggi.
5)      Mengembangkan life-skill dalam setiap aktifitas pendidikan.
6)      Menerapkan manajemen partisipasif dengan melibatkan seluruh warga madrasah, komite madrasah dan stakeholders dalam pengambilan keputusan.
7)      Membangun kesadaran ukhuwah islamiyah dan mewujudkannya dalam kehidupan masyarakat.
8)      Mewujudkan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang mendapat kepercayaan dari masyarakat.










IV. Keadaan Guru Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo

No
Nama
Jenis Kelamin
Mengajar Kelas
Status Kepegawaian
Jabatan
1
Drs. Kusnan
L
-
PNS
Kepala Sekolah
2
Drs. Khoifullah, M.Pd
L
XII
PNS

3
Drs. Ahmad Fauzi, M.Pd
L
XII
PNS

4
Drs. Sodiq Ichsan
L
XII
PNS
Guru B.Indonesia
5
Drs. Sugeng Amperanto
L
XII
PNS
Guru Geografi
6
Drs. Anwar, M.Ag
L
XII
PNS
Guru Qur’an Hadits
7
Tri Sudarwanti, S.Pd
P
XI, XII
PNS
Guru Ekonomi
8
Dra. Fausy Rika Erawati
P
X
PNS
Guru Kimia
9
Khoirul Bariyah, S.Pd.I
P
XI
PNS
Guru B.Arab
10
Idrus, S.Pd
L
XII
PNS
Guru Penjaskes
11
Amik Amri Rahmadhi, SS, M.Pd
L
XII
PNS
Guru B.Inggris
12
M. Ainun Najib, S.Ag
L
X,XII
PNS
Guru Aqidah Akhlak
13
Arini Indah N. S.Pd, M.Pd
P
XII
PNS
Guru Geografi
14
Lilik Sumarti, S.Pd
P
X
PNS
Guru Ekonomi
15
Drs. Chilmy
L
X, XII
PNS
Guru Kesenian
16
Abdulloh Muthik, S.Pd
L
X
PNS
Guru Fisika
17
Drs. Miftachul Munir
L
XII
PNS
Guru Matematika
18
Niswati, S,Pd
P
XII
PNS
Guru B.Inggris
19
Machnuri, BA
L
X
PNS
Guru Fiqih
20
Dra. Meistuti Setijorini
P
XII
PNS
Guru Matematika
21
Drs. Sukoyo
L
XII
PNS
Guru Geografi
22
Dra. Trisnowati
P
XII
PNS
Guru Sejarah
23
Nanang Al-Haris, ST
L
X, XII
PNS
Guru Elektro
24
Rukhul Fitriyah, S.Pd
P
X
PNS
Guru Biologi
25
Yuli Naharul F, S.Pd, M.Psi
P

PNS
Guru BP
26
Hatta, S, Ag, M.Ag
L
XII
PNS
Guru Muhaddatsah
27
Mawahiburrohman, S.Ag
L


Staf TU
28
Izzatul Hayati, S,Sos
P
X, XII
PNS
Guru Sosiologi
29
Drs. Isa Ansori
L
X, XII
PNS
Guru Kewarganegaraan





V.      PRASARANA SEKOLAH

1.      Jenis Sarana Yang Dimiliki Sekolah

No
Jenis
Keberadaan
Fungsi
Ada
Tidak Ada
Ya
Tidak
1
Ruang Kepala Sekolah


2
Ruang Wakil Kepala Sekolah


3
Ruang Guru


4
Ruang Layanan Konseling


5
Ruang UKS


6
Perpustakaan


7
Ruang Tata Usaha


8
Ruang Penjaga Sekolah


9
Laboratorium Bahasa


10
Laboratorium Biologi


11
Laboratorium Fisika-Kimia


12
Masjid


13
Ruang Kelas


14
Kantin Sekolah


15
Ruang untuk masing-masing Ekskul




2.      WC dan Kamar Mandi
Peruntukan
Keberadaan
Jumlah
Kondisi
Ada
Tidak
Baik
Tidak Baik
Kepala Sekolah

1

Guru / karyawan Perempuan

1

Guru/karyawan Laki-Laki

1

Siswa Laki-Laki

1

Siswa Perempuan

4


3.      Prasarana
Jenis
Keberadaan
Berfungsi
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Instalasi Air


Jaringan Listrik


Jaringan telepon


Jaringan Internet


Akses Jalan



VI. ALAT BANTU AJAR
    
No
Alat
Jumlah
Tahun Pengadaan
Kondisi
Baik
Rusak
1
Kerangka Manusia
3
1998

2
Globe
3
2000

3
Microskop
10
2000


























Kurikulum
MAN SIDOARJO
Tahun 2011-2012













DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SIDOARJO
MAN SIDOARJO
Alamat :   Jl. Stadion Jenggolo No.2
Sidoarjo



LEMBAR PENGESAHAN

KURIKULUM
MAN SIDOARJO  KECAMATAN SEDATI KABUPATEN  SIDOARJO
TAHUN 2011 - 2012

Ditetapkan di         : Sidoarjo
Pada tanggal         :  2 April 2012
Ketua Komite Sekolah                                                           Kepala sekolah


AGUS GUNARDI                                                                                  DRS. KHUSNAN    



Mengetahui
Kepala Dinas Pendidikan
Kabupaten Sidoarjo


Ir.AGOES BOEDI TJAHYONO, MT
Pembina Utama Muda
NIP: 19590804 198903 1 009
















BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian  dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah yang kita kenal dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum acuan operasional yang disusun dan dilaksanakan di masing – masing satuan pendidikan. Landasan dari pembuatan KTSP ini adalah Undang – undang Republik  Indonesia No. 20 TAHUN 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah RI nomor 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan, Kepmendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang standar Isi, Kepmendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang Stnadar Kompetensi Kelulusan,dan pemberlakuan Undang-undang Republik Indonesia nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengacu kepada Standar Isi , Standar Kopetensi Kelulusan dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah.
Kurikulum Sekolah MAN Sidoarjo Kecamatan Sidoarjo, disusun oleh tim penyusun yang terdiri dari kepala sekolah, guru, konselor, serta komite sekolah, dan Pengawas MAN, Pengawas Pendais di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo,sebagai pedoman bagi guru dalam menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) agar dapat memberi kesempatan peserta didik belajar membangun dan menemukan jati dirinya melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.






A.    Landasan
Pengembangan Kurikulum MAN Kecamatan Sidoarjo, mengacu pada :
1.    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pasal 36 ayat  (2)” Kurikulum  pada semua jenjang dan jenis pendidikan dengan prinsip diversifikasi sesuai satuan pendidikan, potensi Daerah, dan peserta didik.  Pasal 38 ayat  (2).” Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau Satuan Pendidikan dan komite sekolah di bawah koordinasi dan supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten.
2.    Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Pasal 17 ayat (1)” Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD/MI, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi Daerah/Krakteristik Daerah, sosial budaya masyarakat setempat, peserta didik.  Tin, (2); Pasal 18 ayat (1), (2), (3); Pasal 20.

     3.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional ( Permendiknas) nomor 6 tahun 2007
Tentang   
          perubahan Permendiknas nomor 24 tahun 2006 “ Satuan Pendidikan dasar   dan 
          Menengah yang disusun olah Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen
          Pendidikan Nasional bersama unit terkait.

4.    Standar Isi
Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Termasuk dalam Standar isi (SI) adalah : kerangka dasar dan struktur kurikulum, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah. SI ditetapkan dengan Permendiknas No. 22 Tahun 2006.
5.    Standar Kompetensi Lulusan
SKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan Permendiknas No. 23 Tahun 2006.

B.       Tujuan Pengembangan KTSP
1.      Menjadi acuan dan pedoman bagi sekolah ( Pendidik dan Tenaga  kependidikan) dalam rangka penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran yang bermutu dan terukur , berkesinambunagn, dan dapat dipertanggung jawabkan.
2.      Menjadi acuan dan pedoman bagi stakeholders( pemangku kepentingan) dalam rangka ikut serta memberikan partisipasi maupun pengendalian/control untuk terwujudnya satuan pendidikan yang sehat, bermutu, dan memenuhi harapan masyarakat.
3.      Mengakomodasikan semua potensi yang ada di sekolah dan untuk meningkatkan kualitas satuan pendidikan, baik dalam bidang akademis, maupun non akademis, memelihara budaya daerah, mengikuti perkembangan iptek yang dilandasi iman dan taqwa.
4.      Agar peserta didik :
·           Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
·           Menguasai dasar-dasar pengetahuan teknologi dan seni
·           Berinteraksi sosial baik dengan teman , guru, dan masyarakat setempat maupun lingkungan sekitar
·           Mengaktualisasikan diri sesuai bakat, minat, dan potensi yang dimiliki

C.    Prisip-Prinsip Pengembangan KTSP
Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar. Pengembangan kurikulum mengacu pada SI dan SKL dan bepedoman pada panduan penyususnan kurikulum yang disusun oleh BNSP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah. KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1.       Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
2.       Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender.
3.       Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis.
4.       Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan   melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan  kemasyarakatan, dunia usaha dan  dunia kerja.
5.       Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi,   bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
6.       Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
7.       Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
D.      Prinsip Pelaksanaan Kurikulum
Dalam pelaksanaan kurikulum di MAN Sidoarjo menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut.
a.       didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dengan layanan pendidikan yang bermutu, serta memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
b.      menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
c.       Guru memberikan layanan kepada peserta didik untuk mendapat layanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.
d.      Pembelajaran  dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan).
e.       Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).
f.       Pembelajaran  dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
























BAB II
TUJUAN
1.        Tujuan Pendidikan Dasar /Menengah
Tujuan Pendidikan Dasar /menengah adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlaq mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Mengacu pada tujuan dasar pendidikan tersebut, maka tujuan MAN Kecamatan Sidoarjo adalah sebagai berikut :
1.      Dapat mengamalkan ajaran agama hasil proses pembelajaran,kegiatan pembiasaan yang  berkarakter Bangsa
2.      Meraih prestasi akademik maupun non akademik
3.      Menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bekal untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi
4.      Menjadi sekolah pelopor dan penggerak di lingkungan masyarakat sekitar
5.      Menjadi sekolah yang dipercaya masyarakat

2.        Visi Sekolah :
 Perkembangan dan tantangan masa depan seperti, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, globalisasi yang sangat cepat, era reformasi dan berubahannya kesadaran masyarakat dan orang tua terhadap pendidikan memicu sekolah untuk merespon tantangan sekaligus peluang. MAN Sidoarjo memiliki citra moral yang menggambarkan profil sekolah yang diinginkan di masa datang yang diwujudkan dalam visi sekolah sebagai berikut:

“Mewujudkan Keunggulan dalam Prestasi Berdasarkan Iman dan Taqwa”

3.         Misi Sekolah
     Untuk mewujudkan visi, sekolah melakukan langkah-langkah strategis yang dinyatakan dalam misi  berikut :
1.      Melaksanakan Pembelajaran yang Aktif, Kreatif dan Efektif dan Inovatif serta Menyenangkan ( PAKEM )
2.      Menumbuhkan Semangat Keunggulan Secara Intensif kepada Guru dan Siswa Baik Seorang Akademik maupun Non Akademik
3.      Menumbuhkan Penghayatan Ajaran Agama yang Dianut dan juga Budaya Bangsa sehingga menjadi Sumber Kearifan dalam Bertindak
4.      Menumbuhkan Semangat Peka dan Peduli Terhadap Lingkungan Sosial pada Siswa Siswi sejak Dini
5.      Menerapkan Manajemen Partisipasi dengan Melibatkan Seluruh Warga Sekolah dan Kelompok yang Terkait.
6.      Melengkapi Sarana – Prasarana Pendidikan secara Bertahap dan Berkesinambungan

4.         Tujuan MAN  Sidoarjo tahun pelajaran 2011/2012
Tujuan sekolah sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional, adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengukuti pendidikan lebih lanjut.

Untuk mencapai standar mutu pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan secara nasional, kegiatan pembelajaran di sekolah mengacu pada peraturan menteri dan Standar  kompetensi kelulusan yang telah ditetapkan olah BSNP sebagai berikut :
1.      Standar Isi
1.1.            Mengembangkan standar kompetensi dasar dan indikator muatan kelas 1,2 dan 3
1.2.            Mengembangkan pemetaan standar kompetensi, kompetensi Dasar dan indikator berbasis kecakapan hidup kelas 1,2 dan 3
1.3.            Memiliki standar kompetensi dan kompetensi  dasar dan indikator muatan lokal
1.4.            Mengembangkan silabus dan perangkat pembelajaran kelas 1,2dan 3 untuk semua mata pelajaran
1.5.            Mengembangakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), kelas 1,2dan 3 semua mata pelajaran
1.6.            Memiliki bahan ajar untuk seluruh mata pelajaran
2.      Standar Proses
2.1.            Menguasai metode, strategi dan model pembelajaran yang bervariasi melalui pendekatan PAKEM
2.2.            Mengembangkan model pembelajaran yang Kooperatif dan inovatif
2.3.            Mengembangkan bahan ajar berbasis kecakapan hidup
3.      Standar Kompetensi Kelulusan
3.1.            Rata-rata Ujian Nasional ...
3.2.            Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)...... untuk semua mata pelajaran
3.3.            Gains score achiement (GSA) sebesar .....
3.4.            Juara..... tingkat ....
3.5.            Juara..... tingkat
3.6.            Semua siswa dari kelas 1 – kelas 3 yang beragama Islam mampu membaca Alqur’an dengan benar
3.7.            Memiliki kepedulian sosial yang tinggi
3.8.            .....% lulusan diterima di sekolah favorit


4.      Standar Tenaga Pendidik dan Kependidikan
4.1.            Memiliki tenaga pendidik ....% S-1
4.2.            ...% jumlah guru menguasai metode, strategi dan model pembelajaran yang inovatif dan up to date
4.3.            Mengembangkan keterampilam komputer untuk tenaga pendidik
4.4.            Memilki tenaga pendidik dan kependidikan yang mampu mengoperasikan Microsoft Office ( Word, Excel dan Power Poin)
4.5.            Kurang dari ....% tenaga pendidik dan kependidikan datang terlambat
4.6.            Memiliki tenaga pendidik dan kependidikan yang taat beribadah
4.7.            Memiliki tenaga pendidik dan kependidikan yang mempunyai kepekaan sosial tinggi
4.8.            ....................
4.9.            .........................
5.      Standar Sarana dan Prasarana
5.1.            Memiliki sarana dan prasarana yang sesuai Standar Pelayanan Minimal(SPM)
5.2.            Mempunyai fasilitas pendidikan yang standar
5.3.            Menjalin kerja sama dengan lembaga lain dibidang jasa perawatan alat pembelajaran
6.      Standar Pengelolan Pendidikan
6.1.            Memiliki sistem pengelolaan yang standar
6.2.            Mengembnagkan pengelolaan tertib keuangan
6.3.            Mengembangkan pengelolaan administrasi semua urusan( kurikulum, kesiswaan, humas, dan sarana)
6.4.            Mengembangkan menejemen sekolah yang partisiatif ,  transparan dan akuntabel
7.      Standar Pembiayaan
7.1.            Memiliki aplikasi Menajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam pembiayaan pendidikan
7.2.            Membebaskan ....% biaya pendidikan
8.      Standar Penilaian
8.1.            Semua guru mengembngkan sistem penilaian yang autentik ( authentic Asseement)
















KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

PERANGKAT PEMBELAJARAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Mata Pelajaran                         : Ekonomi
Satuan Pendidikan                  : MAN

Kelas/Semester                : XI

Nama Guru                                 : Siti Utaminingsih, S. Pd
NIP                                                 : 195911031981122001
Sekolah                                        : MAN SIDOARJO


























                                           



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)


Sekolah                        : SMA ….
Mata Pelajaran         : Ekonomi
Kelas / Semester      : XI (sebelas) / 1

Standar Kompetensi      : 1. Memahami kondisi ketenagakerjaan dan dampaknya terhadap pembangunan ekonomi.

Kompetensi Dasar           : 1.1 Mengklasifikasi ketenagakerjaan

Indikator             : 1. Menjelaskan pengertian jumlah penduduk, tenaga kerja, angkatan kerja, dan kesempatan kerja.
                                          2. Menjelaskan penyebab pengangguran.
                               3. Menjelaskan cara mengatasi masalah pengangguran di Indonesia.
                                            4. Menjelaskan cara meningkatkan kualitas tenaga kerja.
                               5. Menjelaskan sistem pengupahan dan penggajian yang berlaku di Indonesia.
                                       
Alokasi Waktu          : 8 x 45 menit

A. Tujuan Pembelajaran
a)      Siswa dapat menjelaskan pengertian jumlah penduduk, tenaga kerja, angkatan kerja, dan kesempatan kerja.
b)      Siswa dapat menjelaskan penyebab pengangguran.
c)       Siswa dapat menjelaskan cara mengatasi masalah pengangguran di Indonesia.
d)      Siswa dapat menjelaskan cara meningkatkan kualitas tenaga kerja.
e)      Siswa dapat menjelaskan sistem pengupahan dan penggajian yang berlaku di Indonesia.
                                       
B. Materi Pokok
        Ketenagakerjaan

C. Uraian Materi
a)      Hubungan jumlah penduduk, tenaga kerja, angkatan kerja, dan kesempatan kerja
b)      Pengangguran
c)       Cara-cara mengatasi pengangguran
d)      Usaha peningkatan mutu tenaga kerja
e)      Sistem upah yang berlaku di Indonesia

D. Pendekatan
        Kontekstual

E. Metode Pembelajaran
        Diskusi kelompok

F. Skenario Pembelajaran

1. Kegiatan Awal
a. Apersepsi
Guru menggali dan mengembangkan pengetahuan siswa tentang ketenagakerjaan. Kemudian guru mempersilahkan siswa memasuki ruang audio visual untuk melihat tayangan yang berhubungan dengan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Selama kegiatan tersebut, guru menghimbau siswa untuk mencatat hal-hal yang penting.
b. Motivasi
        Masalah ketenagakerjaan adalah masalah yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Masalah tersebut merupakan topik yang senantiasa dibicarakan dalam kerangka pembangunan ekonomi nasional. Kelak, para siswa akan menjadi bagian dari tenaga kerja Indonesia.

2. Kegiatan Inti
a. Siswa dikelompokkan menjadi lima kelompok, di mana masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 orang (disesuaikan dengan jumlah siswa).
b. Kelompok pertama diberi tugas untuk menjelaskan pengertian jumlah penduduk, tenaga kerja, angkatan kerja, dan kesempatan kerja.
c. Kelompok kedua diberi tugas untuk menjelaskan penyebab pengangguran.
d. Kelompok ketiga diberi tugas untuk menjelaskan cara mengatasi masalah pengangguran di Indonesia.
e. Kelompok keempat diberi tugas untuk menjelaskan cara meningkatkan kualitas tenaga kerja.
f. Kelompok kelima diberi tugas untuk menjelaskan sistem pengupahan dan penggajian yang berlaku di Indonesia.
g. Masing-masing kelompok mempersentasikan tugasnya di depan kelas, sedangkan kelompok yang lain menanggapi.
h. Dengan bimbingan guru, siswa membuat kesimpulan.

3. Kegiatan Akhir
a. Guru dan siswa melakukan refleksi
b. Penilaian
  • Tes lisan dengan beberapa pertanyaan (kognitif)
  • Lembar pengamatan (afektif)
  • Lembar pengamatan (psiko motorik)
c. Siswa mengerjakan soal-soal evaluasi yang terdapat pada buku teks Ekonomi  .

G. Sumber dan Alat
        Buku teks, OHP, spidol





















RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)


Sekolah                        : SMA ….
Mata Pelajaran         : Ekonomi
Kelas / Semester      : XI (sebelas) / 1

Standar Kompetensi      : 1. Memahami kondisi ketenagakerjaan dan dampaknya terhadap pembangunan ekonomi

Kompetensi Dasar           : 1.2 Mendeskripsikan tujuan pembangunan ekonomi


Indikator                             :    1. Menjelaskan pengertian pembangunan ekonomi.
  2. Menilai kondisi perekonomian Indonesia dan menjelaskan tujuan pembangunan ekonomi di Indonesia.
    3. Mengidentifikasi permasalahan pembangunan ekonomi di Indonesia.
    4. Mengidentifikasi keberhasilan dan kegagalan pembangunan ekonomi Indonesia.

Alokasi Waktu          : 4 x 45 menit

A. Tujuan Pembelajaran
a)      Siswa dapat menjelaskan pengertian pembangunan ekonomi.
b)      Siswa dapat menilai kondisi perekonomian Indonesia dan menjelaskan tujuan pembangunan ekonomi di Indonesia.
c)       Siswa dapat mengidentifikasi permasalahan pembangunan ekonomi di Indonesia.
d)      Siswa dapat mengidentifikasi keberhasilan dan kegagalan pembangunan ekonomi Indonesia.

B. Materi Pokok
        Pembangunan ekonomi

C. Uraian Materi
a)      Pengertian pembangunan ekonomi
b)      Pengertian dan tujuan pembangunan nasional
c)       Pola dan tahapan pembangunan nasional
d)      Keberhasilan dan kegagalan pembangunan ekonomi Indonesia

D. Pendekatan
        Kontekstual

E. Metode Pembelajaran
        Diskusi kelompok dan studi kepustakaan

F. Skenario Pembelajaran

1. Kegiatan Awal
a. Apersepsi
Guru mengulas kembali pembahasan materi yang lalu tentang ketenagakerjaan. Kondisi ketenagakerjaan sangat berkaitan dengan keberhasilan dan kegagalan pembangunan ekonomi Indonesia. Kemudian guru mempersilahkan siswa memasuki ruang audio visual untuk melihat tayangan yang berhubungan dengan pembangunan nasional. Selama kegiatan tersebut, guru menghimbau siswa untuk mencatat hal-hal yang penting.
b. Motivasi
        Setiap negara secara berkesinambungan melakukan pembangunan ekonomi untuk menciptakan kesejahteraan rakyatnya.

2. Kegiatan Inti
a. Siswa dikelompokkan menjadi empat kelompok, di mana masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 orang (disesuaikan dengan jumlah siswa).
b. Kelompok pertama diberi tugas untuk menjelaskan pengertian pembangunan ekonomi.
c. Kelompok kedua diberi tugas untuk menilai kondisi perekonomian Indonesia dan menjelaskan tujuan pembangunan ekonomi di Indonesia.
d. Kelompok ketiga diberi tugas untuk mengidentifikasi permasalahan pembangunan ekonomi di Indonesia.
e. Kelompok keempat diberi tugas untuk mengidentifikasi keberhasilan dan kegagalan pembangunan ekonomi Indonesia.
f. Masing-masing kelompok mempersentasikan tugasnya di depan kelas, sedangkan kelompok yang lain menanggapi.
g. Dengan bimbingan guru, siswa membuat kesimpulan.

3. Kegiatan Akhir
a. Guru dan siswa melakukan refleksi
b. Penilaian
  • Hasil kerja kelompok (kognitif)
  • Lembar pengamatan (afektif)
  • Lembar pengamatan (psiko motorik)
c. Siswa mengerjakan soal-soal evaluasi yang terdapat pada buku teks Ekonomi  .
d. Siswa diberi tugas untuk mencari artikel koran dan majalah yang berkaitan dengan pembangunan nasional.

G. Sumber dan Alat
        Buku teks, OHP, spidol























RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)


Sekolah                        : SMA ….
Mata Pelajaran         : Ekonomi
Kelas / Semester      : XI (sebelas) / 1

Standar Kompetensi      : 1. Memahami kondisi ketenagakerjaan dan dampaknya terhadap pembangunan ekonomi

Kompetensi Dasar           : 1.3 Mendeskripsikan proses pertumbuhan ekonomi

Indikator                             : 1. Mendeskripsikan pertumbuhan ekonomi.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi.
                                                                                       
Alokasi Waktu          : 4 x 45 menit

A. Tujuan Pembelajaran
a)      Siswa dapat mendeskripsikan pertumbuhan ekonomi.
b)      Siswa dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

B. Materi Pokok
Pertumbuhan ekonomi


C. Uraian Materi
a)      Arti pertumbuhan ekonomi
b)       Teori pertumbuhan ekonomi
c)        Faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi

D. Pendekatan
        Kontekstual

E. Metode Pembelajaran
        Diskusi kelompok dan studi kepustakaan

F. Skenario Pembelajaran

1. Kegiatan Awal
a. Apersepsi
Guru mengulas kembali pembahasan materi yang lalu tentang pembangunan ekonomi. Kemudian guru mengaitkan dan menjelaskan perbedaan antara pembangunan ekonomi tersebut dengan pertumbuhan ekonomi serta memberi penjelasan yang singkat dan jelas tentang materi yang baru dan kompetensi yang harus dikuasai.
b. Motivasi
        Laju pertumbuhan ekonomi merupakan indikator keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara.
       
2. Kegiatan Inti
a. Siswa dikelompokkan menjadi dua kelompok besar (disesuaikan dengan jumlah siswa).
b. Kelompok pertama diberi tugas untuk mendeskripsikan pertumbuhan ekonomi.
c. Kelompok kedua diberi tugas untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi.
d. Masing-masing kelompok mempersentasikan tugasnya di depan kelas, sedangkan kelompok yang lain menanggapi.
e. Dengan bimbingan guru, siswa membuat kesimpulan.

3. Kegiatan Akhir
a. Guru dan siswa melakukan refleksi
b. Penilaian
  • Tes lisan dengan beberapa pertanyaan (kognitif)
  • Lembar pengamatan (afektif)
  • Lembar pengamatan (psiko motorik)
c. Siswa mengerjakan soal-soal evaluasi yang terdapat pada buku teks Ekonomi  .

G. Sumber dan Alat
        Buku teks dan spidol.

Tidak ada komentar: